Villa Sipat & Sauh

[English text below, provided by the architect] Berlokasi di kawasan Bali yang dinamis, Villa Sipat & Sauh mendefinisikan ulang gagasan tentang properti sewa dengan menghadirkan keintiman dan kehangatan rumah pribadi ke dalam konteks hospitality. Brief dari klien terdengar sederhana namun menantang: merancang sebuah pool villa untuk disewakan yang terasa personal—“homey”—namun tetap memiliki pernyataan arsitektural yang kuat. Proses desain dimulai dari eksplorasi mengenai hal yang kerap absen pada sebagian besar villa sewa di Bali, yaitu rasa akrab, kelembutan, dan intimasi ruang yang membuat sebuah hunian terasa benar-benar ditinggali, bukan sekadar dipersiapkan untuk tamu.

Dibangun di atas lahan kompak seluas 150 meter persegi, vila ini berkembang dalam dua lantai dengan total luas bangunan mencapai 190 meter persegi. Narasi ruangnya menyeimbangkan keterbukaan dan privasi, serta fungsi dan emosi. Pengalaman tersebut dimulai sejak memasuki area bangunan. Pengunjung disambut oleh foyer kecil yang dibingkai glass block dan sengaja dibiarkan terbuka ke langit. Cahaya matahari masuk secara lembut pada siang hari, sementara air hujan sesekali turut meresap ke dalam ruang, menciptakan momen yang taktil sekaligus puitis sebelum benar-benar memasuki rumah. Alih-alih ruang keluarga yang umumnya menjadi area pertama pada rumah-rumah di Indonesia, ruang pertama yang ditemui justru dapur dengan island counter berukuran sederhana—sebuah gestur yang tidak lazim dan menggantikan kesan formal dengan keintiman. Tata ruang ini secara halus mendorong interaksi dan menghadirkan rasa nyaman khas domestik yang jarang ditemukan pada akomodasi short-stay.


Di balik area dapur, ruang makan dan ruang keluarga ditata sebagai rangkaian ruang yang saling terhubung, dipisahkan oleh partisi transparan berbahan kayu dan fluted glass. Batas yang samar tersebut mendefinisikan masing-masing ruang tanpa memutus koneksi visual maupun spasialnya, memungkinkan cahaya dan udara mengalir bebas. Di jantung vila terdapat inner courtyard dengan kolam renang—sebuah ruang terbuka yang menjadi pusat sekaligus jangkar tata ruang, baik secara fungsional maupun emosional. Courtyard ini menjadi mediator antara zona publik di bagian depan dan area tidur privat di bagian belakang serta lantai atas. Tangga yang berada di sisi kolam menjadi penghubung vertikal sekaligus mempertegas gagasan bahwa pergerakan di dalam rumah selalu berinteraksi dengan ruang luar.

Arsitekturnya juga melampaui sekadar organisasi ruang internal. Bagian eksterior menampilkan ekspresi geometris yang tegas melalui penggunaan glass block—material yang dipilih karena sifatnya yang opak sekaligus mampu membangkitkan rasa ingin tahu. Permukaannya melindungi interior dari pandangan langsung, namun tetap memperlihatkan siluet samar dari dalam, menciptakan rasa penasaran tanpa mengorbankan privasi. Permainan antara menyembunyikan dan memperlihatkan ini menjadi karakter utama bangunan, menjadikan fasad terasa protektif sekaligus ekspresif. Desainnya pun menjauh dari estetika tropis konvensional yang umum ditemui pada villa-villa sewa di Bali, dan memilih pendekatan yang lebih restrained serta jujur terhadap material.

Setiap keputusan desain di Villa Sipat & Sauh dirancang untuk membangkitkan rasa tenang dan perasaan memiliki. Meski berdiri di atas tapak yang relatif kecil, rumah ini terasa luas melalui permainan layering vertikal, cahaya tersaring, serta hubungan visual yang konstan dengan vegetasi dan langit. Hasil akhirnya adalah sebuah urban retreat kompak yang mentransformasikan properti sewa sederhana menjadi pengalaman ruang yang bermakna—bukan tentang kemewahan dalam bentuknya yang paling megah, melainkan tentang kenyamanan yang tenang dan ritme hidup yang lembut bersama cahaya, tekstur, dan waktu.

Villa Sipat & Sauh

Located in the vibrant neighborhood of Bali, Sipat & Sauh Villa redefines the idea of a rental property by bringing the intimacy and warmth of a private home into a hospitality setting. The client’s brief was simple yet challenging: to design a pool villa for rent that feels deeply personal—“homey”—while still making a strong architectural statement. The design began with an exploration of what was missing from most rental villas on the island: the sense of familiarity, softness, and spatial intimacy that makes a house feel lived in rather than staged.

Built on a compact 150-square-meter site, the villa unfolds across two levels with a total floor area of 190 square meters. The spatial narrative balances openness with privacy, and functionality with emotion. The entry procession sets the tone for this experience. Visitors are greeted by a small foyer framed by glass blocks and left intentionally open to the sky. Sunlight filters through during the day, while rain occasionally seeps in, creating a tactile and poetic moment before one fully steps inside. Instead of the typical living room that usually marks the entrance in Indonesian homes, the first space encountered is a kitchen with a modest island counter—an unconventional gesture that replaces formality with intimacy. This layout subtly encourages interaction and a sense of domestic comfort rarely found in short-stay accommodations.


Beyond the kitchen, the dining and living areas are arranged as an interconnected sequence, separated by a translucent partition made of timber and fluted glass. The blurred boundary defines each room without severing their visual or spatial connection, allowing light and air to flow freely. At the heart of the villa lies an inner courtyard with a swimming pool—an open-air core that anchors the plan both functionally and emotionally. This courtyard mediates between the public zone at the front and the private sleeping areas at the back and upper level. The stair beside the pool provides a vertical link while reinforcing the idea that movement through the house should always engage with the outdoors.

The architecture extends beyond its internal organization. The exterior embodies a clear, geometric expression defined by the use of glass blocks—a material chosen for both its opacity and its ability to intrigue. The surface shields the interior from direct view while revealing faint silhouettes, inviting curiosity from the outside without compromising privacy. This interplay between concealment and exposure becomes a defining feature, making the facade both protective and expressive. The design resists the conventional tropical aesthetics commonly seen in Bali’s rental villas, opting instead for restraint and material honesty.

Every decision in Sipat & Sauh Villa is intended to evoke calmness and belonging. Despite its small footprint, the house feels expansive through vertical layering, filtered light, and constant visual connections with greenery and sky. The result is a compact urban retreat that transforms a simple rental property into a meaningful spatial experience—not about luxury in its grandest form, but about quiet comfort and the gentle rhythm of living with light, texture, and time.

Architectural Design: Arkana Architects
Design Principal(s): Gathi Subekti
Design Team: Andika Surya Pramana, Marceanno Julio
Name of Project: Villa Sipat & Sauh
Location: Ungasan, Bali
Site Area: 150 sqm. x 2 plot lands
Design Period: 2023
Construction Period: 2024
Contractor: Gusti Gunayusa
Photographer: Thomas Irsyad
PRODUCT SERIES
Flooring: Niro Granite Tiles
Paint: Decorative paint-white
Facade Finishing: Glass Block & Terracotta
Glass: Flutes & Clear Glass
Doors: Aluminium Frame ex
Sanitary: TOTO









Leave a Reply
Be the First to Comment!