Indonesia Design District x ARCHINESIA: Collective Culture in Architecture – ARCHINESIA
Widget Image
 

Indonesia Design District x ARCHINESIA: Collective Culture in Architecture

Indonesia Design District x ARCHINESIA: Collective Culture in Architecture

Arsitektur bukan sekadar hasil dari kebudayaan yang telah ada. Melalui ruang yang digunakan dan diadaptasi bersama, arsitektur dapat menjadi wadah yang terus memproduksi interaksi, pengetahuan, kebiasaan, dan pada akhirnya budaya kolektif.

Pemahaman itulah yang menjadi latar belakang tema “Collective Culture in Architecture: Bagaimana Arsitektur Menghasilkan Budaya Kolektif” yang diangkat dalam Forum Arsitektur ARCHINESIA (FAA) #70. Berkolaborasi kembali dengan Indonesia Design District pada Indonesia Design Week 2026, edisi kali ini mempertemukan dua arsitek dengan pendekatan berbeda. FAA #70 menghadirkan Adi Purnomo dari mamostudio dan Antonius Richard dari RAD+ar sebagai pembicara, serta Imelda Akmal sebagai moderator. 

Coastal Culture, sebuah gagasan dari Adi Purnomo yang melihat kembali hubungan antara masyarakat dan lingkungan pesisir. Ia memulai dari sebuah paradoks: Indonesia memiliki garis pantai yang sangat luas, tetapi banyak kawasan pesisir justru menghadapi persoalan lingkungan dan sosial yang semakin kompleks.

Salah satu contoh yang dibahas adalah Bedono, desa di pesisir utara Jawa dekat Semarang. Perubahan kawasan yang berlangsung secara bertahap—mulai dari penurunan tanah, banjir, perubahan fungsi lahan, hingga ekstraksi air tanah—turut mengubah cara masyarakat menjalani kehidupan. 

Melalui kasus tersebut, Mamo, panggilan akrab Adi Purnomo, menunjukkan bahwa perubahan lingkungan tidak berdiri sendiri sebagai persoalan alam, tetapi juga berkaitan dengan berbagai keputusan manusia dan sistem yang membentuk suatu tempat. Ketika rumah, fasilitas publik, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat ikut terdampak, arsitektur kemudian perlu melihat kembali perannya dalam hubungan yang lebih luas antara manusia, lingkungan, dan sistem sosial yang telah berkembang di dalamnya.

Jika Mamo melihat budaya kolektif melalui hubungan yang telah terbentuk antara masyarakat dan lingkungannya, Richard membawanya pada kemungkinan untuk membangun sistem baru melalui pendekatan yang lebih terdesentralisasi. 

Dalam presentasinya yang berjudul “Practicing Freedom: The Architecture of Decentralized Sustainable”, Richard melihat keragaman geografis, sumber daya, kondisi lingkungan, dan kebiasaan di Indonesia sebagai alasan untuk tidak menyeragamkan praktik arsitektur.

Salah satu eksperimen yang dipaparkan adalah sistem sederhana yang menghubungkan sampah makanan, ayam, telur, kompos, dan kebutuhan masyarakat. Sampah dari aktivitas F&B dapat dimanfaatkan sebagai makanan ayam, sementara kotorannya diolah menjadi pupuk. Bagi Richard, eksperimen semacam ini menunjukkan bagaimana sebuah intervensi kecil dapat menjadi bagian dari sistem yang lebih besar ketika dikembangkan dan diterapkan secara terdesentralisasi.

Pendekatan tersebut juga memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi tertentu, tetapi dengan keberanian untuk menguji berbagai kemungkinan melalui prototipe dan praktik sehari-hari. Arsitektur, dalam konteks ini, tidak selalu harus hadir sebagai objek yang berdiri sendiri, tetapi dapat menjadi bagian dari sistem yang menghubungkan berbagai aktor dan kebutuhan.

Dua pendekatan yang dibawa oleh kedua pembicara FAA #70 memperlihatkan bahwa budaya kolektif dapat tumbuh melalui berbagai cara. Budaya kolektif juga bukan sesuatu yang dihasilkan oleh satu bangunan atau satu keputusan arsitektural. Ia terbentuk dari banyak interaksi, kebiasaan, pengetahuan, dan proses adaptasi yang berlangsung dari waktu ke waktu. Dalam proses tersebut, arsitektur tidak berdiri sebagai pusat, melainkan menjadi salah satu bagian dari ekosistem yang memungkinkan budaya untuk terus tumbuh dan berkembang bersama. (rvx/uci)

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X