Special Interview with Maria Porro: Tentang Identitas, Craftsmanship, dan Desain Asia Tenggara

[English text below] Maria Porro melihat desainer muda di Asia Tenggara sebagai generasi yang memiliki energi dan gagasan besar. Ia melihat semakin besarnya minat terhadap bidang desain dan interior di kawasan ini, seiring dengan meningkatnya pengakuan terhadap desain sebagai profesi sekaligus bagian dari investasi. Bagi Maria, perkembangan tersebut membuka peluang yang besar bagi desainer Asia Tenggara untuk semakin berkontribusi dalam percakapan desain global.
Namun, kemampuan kreatif saja tidak cukup. Di tengah perkembangan teknologi dan AI, desainer justru perlu memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai ekosistem industri yang berkaitan erat dengan proses desain. Mulai dari bagaimana sebuah gagasan diterjemahkan menjadi produk, bagaimana material dan teknologi bekerja, hingga bagaimana kebutuhan klien memengaruhi keputusan desain. Keberanian dalam mengekspresikan ide perlu berjalan bersama pemahaman terhadap realitas produksi agar sebuah desain tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diwujudkan.
Hal tersebut menjadi semakin penting karena Maria melihat masih adanya jarak antara pendidikan dan praktik industri. Bagi desainer muda, memahami proses di luar tahap konseptual—termasuk produksi, engineering, dan industrialisasi—dapat membuka perspektif baru mengenai bagaimana sebuah desain dikembangkan. Dalam konteks ini, proses desain bukan hanya tentang menghasilkan gagasan, tetapi juga memahami bagaimana gagasan tersebut dapat diterapkan dan berkembang dalam dunia nyata.
Di sisi lain, Maria melihat bahwa Asia Tenggara sebenarnya tidak perlu mencari sumber inspirasi terlalu jauh. Masing-masing negara di kawasan ini memiliki kebudayaan, craftsmanship, material, alam, dan sejarah yang kuat. Kekhasan tersebut justru dapat menjadi kekuatan dalam membangun identitas desain yang mampu berkontribusi pada percakapan global. Menurutnya, konteks lokal tidak harus diterjemahkan secara literal, tetapi dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang relevan dengan kebutuhan dan cara hidup masa kini.
Maria pun menyatakan keterbukaannya untuk berkolaborasi dengan desainer Indonesia, termasuk generasi muda yang akan ditemuinya. Bagi Maria, kontribusi Asia Tenggara terhadap desain global dapat muncul ketika heritage, craftsmanship, alam, budaya, dan karakter lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi diterjemahkan menjadi gagasan baru yang mampu berbicara dalam konteks yang lebih universal. (flw/uci)
Special Interview with Maria Porro: On Identity, Craftsmanship, and Southeast Asian Design
Maria Porro sees young designers in Southeast Asia as a generation with great energy and strong ideas. She also observes a growing interest in design and interior design across the region, alongside a broader recognition of design as both a profession and an investment. For Maria, this development presents significant opportunities for Southeast Asian designers to contribute more actively to the global design conversation.
However, creative ability alone is not enough. Amid rapid developments in technology and AI, designers also need to develop a broader understanding of the industry ecosystem closely connected to the design process. This includes understanding how an idea is translated into a product, how materials and technologies work together, and how clients’ needs influence design decisions. The courage to express an idea, she believes, needs to be accompanied by an understanding of the realities of production, so that a design does not remain merely a concept but can ultimately be realized.
This becomes even more important as Maria recognizes the existing gap between education and industry practice. For young designers, understanding processes beyond the conceptual stage—including production, engineering, and industrialization—can offer new perspectives on how a design is developed. In this context, the design process is not only about generating ideas, but also about understanding how those ideas can be applied and evolve in the real world.
At the same time, Maria believes that Southeast Asia does not need to look too far for sources of inspiration. Each country in the region possesses a strong cultural heritage, craftsmanship, materials, natural landscape, and history. These distinctive qualities can become a strength in shaping design identities that contribute to the global conversation. For her, local context does not have to be translated literally; instead, it can be reinterpreted into something relevant to contemporary needs and ways of living.
Maria also expresses her openness to collaborating with Indonesian designers, including the younger generation she will meet. For Maria, Southeast Asia’s contribution to global design can emerge when its heritage, craftsmanship, nature, culture, and local character are not simply preserved, but translated into new ideas that can resonate within a broader, more universal context. (uci)
Interviewer: Fauziah Prabarini
Dokumentasi: Felise Livia W
Leave a Reply
Be the First to Comment!