Indonesia Design District x ARCHINESIA: Architecture Cultures Place
Forum Arsitektur ARCHINESIA (FAA) kembali hadir di Indonesia Design Week 2026. Berkolaborasi dengan Indonesia Design District, sesi ke-71 ini mengangkat tema “Architecture Cultures Place: Arsitektur Membentuk Budaya Sebuah Tempat, Bukan Sekadar Mengisi Lahan.” Sebuah tempat tidak terbentuk hanya dari bangunan yang berdiri di atasnya. Identitas dan budaya suatu tempat juga tumbuh melalui cara ruang dirancang, digunakan, dan terus berinteraksi dengan lingkungan serta masyarakat di sekitarnya.
FAA #71 menghadirkan dua pembicara dengan pengalaman dan sudut pandang yang berbeda dalam menanggapi tema tersebut. Keduanya adalah Alexis Dornier (Alexis Dornier Studio, Bali) dan Yanto Effendi dari MODERNSPACE, Jakarta, dengan Adi Janitra sebagai moderator.

Alexis Dornier mengawali presentasinya dengan mempertanyakan kemungkinan adanya satu formula yang dapat diterapkan pada seluruh proyek arsitektur. Dalam perjalanan praktiknya, ia justru menemukan bahwa proyek-proyek yang dikerjakannya berkembang dengan karakter yang berbeda. Tidak ada satu manifesto atau resep yang terus diulang, karena setiap proyek turut dipengaruhi oleh perubahan dirinya sebagai arsitek, orang-orang yang ditemui, klien, serta kondisi yang muncul selama proses desain.
Pengalaman bekerja di Bali kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan praktiknya. Berada di lingkungan yang memiliki material, pengrajin, serta pengetahuan yang telah berkembang selama ratusan tahun membuat Dornier melihat arsitektur lebih dekat dengan kualitas material dan proses pembuatannya. Material tidak lagi sekadar menjadi bagian dari representasi desain, tetapi menjadi sesuatu yang dapat disentuh, dirasakan, dan membentuk pengalaman ruang.
Bagi Dornier, arsitektur menjadi menarik ketika terjadi dialog antara berbagai hal: material lama dan baru, tangan manusia dan mesin, maupun tradisi dan teknologi. Perbedaan tersebut tidak harus dilebur menjadi satu bentuk yang seragam. Sebaliknya, pertemuan berbagai karakter itulah yang dapat memberikan identitas pada sebuah ruang dan tempat.

Di sisi lain, Yanto Effendi melihat hubungan antara arsitektur dan budaya melalui pengalaman ruang sehari-hari, khususnya bagaimana bangunan merespons cahaya dan iklim. Perjalanannya dalam praktik arsitektur bermula dari perhatian terhadap bagaimana cahaya masuk ke dalam bangunan dan mengubah suasana ruang. Skylight, light well, void, teras, hingga courtyard kemudian menjadi sejumlah perangkat yang terus dieksplorasi.
Namun, cahaya juga membawa panas. Karena itu, upaya menghadirkan ruang yang terang perlu berjalan beriringan dengan kenyamanan termal. Skylight, misalnya, tidak hanya digunakan sebagai sumber cahaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi mengeluarkan udara panas. Teras pun tidak sekadar menjadi elemen pembayangan, tetapi dapat berfungsi sebagai ruang untuk menerima tamu, beristirahat, dan berinteraksi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kenyamanan tidak selalu harus dicapai dengan menutup bangunan dari lingkungan. Bangunan justru dapat membuka diri secara terukur terhadap cahaya, udara, vegetasi, dan air melalui keberadaan pohon, shading, water body, courtyard, serta ruang-ruang transisi. Ruang kemudian tidak hanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memungkinkan penggunanya untuk bertemu, belajar, dan berinteraksi.

Di sinilah keputusan arsitektur yang terlihat teknis mulai berhubungan dengan pembentukan budaya sebuah tempat. Melalui FAA #71, “Architecture Cultures Place” tidak menawarkan satu formula mengenai bagaimana arsitektur dan budaya harus saling berhubungan. Arsitektur mungkin tidak secara langsung menciptakan budaya. Namun, ketika ruang terus digunakan, kebiasaan berulang, dan interaksi berlangsung di dalamnya, arsitektur dapat menjadi salah satu kondisi yang memungkinkan budaya tumbuh dan pada akhirnya membentuk karakter sebuah tempat. (rvx/uci)

Leave a Reply
Be the First to Comment!