ASH House

[English text below, provided by the architect] ASH House di Cikupa, Tangerang, merupakan contoh hunian dengan desain tropis yang dirancang secara menyeluruh. Berdiri di atas lahan seluas 162 meter persegi, rumah ini menghadirkan keterpaduan antara arsitektur, interior, dan lingkungan sekitarnya.

Entrance memberikan kesan pertama yang menarik. Dirancang dengan konsep semi-terbuka, area ini menghadirkan taman kecil dan jalur berpaving bata yang kuat menampilkan nuansa outdoor. Alih-alih menggunakan pintu masif seperti rumah konvensional, pintu utama di sini dibuat dari kisi-kisi kayu, memungkinkan sirkulasi udara yang optimal tanpa mengorbankan privasi penghuni. Lebih dari sekadar ruang transisi, entrance turut berfungsi sebagai terowongan angin. Kehadiran elemen ini memungkinkan ventilasi alami yang efisien serta aliran udara yang strategis ke seluruh bagian rumah.

Penempatan bukaan pada ASH House tidak hanya mempertimbangan visual, tetapi juga sebuah strategi matang untuk merespons iklim tropis. Jendela-jendela yang diposisikan dengan cermat membawa cahaya alami masuk ke dalam ruang sekaligus memastikan pertukaran udara segar secara berkelanjutan—hal yang sangat penting di iklim tropis. Selain itu, penerapan konsep open plan di lantai dasar memperkuat kesan lapang, serta mendukung terciptanya ruang hidup yang efisien dan saling terhubung.
Area ruang keluarga yang dibuat menurun (sunken) menjadi salah satu elemen arsitektur paling menonjol di ASH House. Desain ini menciptakan batas visual antar fungsi ruang, sekaligus membangun keterhubungan yang lebih erat dengan area lain–mendukung pengalaman ruang yang cair dan menyatu. Perpaduan antara desain sunken dan langit-langit tinggi menciptakan ilusi ruang yang lebih besar, serta menambah kedalaman komposisi arsitektur rumah secara keseluruhan.

Dengan dua lantai yang dirancang penuh pertimbangan, ASH House tampil sebagai hunian arsitektur tropis yang menyeimbangkan fungsi dan estetika. Dari pintu masuk yang memikat hingga interior yang dipenuhi cahaya alami, rumah ini tidak hanya menyatu dengan lingkungan sekitarnya, tapi juga mengusung ulang makna hidup tropis yang hangat dan adaptif.

ASH House
[Text provided by the architect] The ASH House in Cikupa, Tangerang, is a remarkable example of tropical design, proudly standing on a 162-square-meter plot and seamlessly connecting architecture, interior, and surroundings.

The entrance of the ASH House offers a captivating introduction. Designed with a semi-outdoor concept, it features a small garden and a brick pathway, providing an unmistakable outdoor feel. Unlike traditional solid doors, the main entrance was crafted from a wooden lattice, ensuring optimal airflow while maintaining the client’s privacy. What’s fascinating is that this entrance area serves more than just a welcoming space—it doubles as a wind tunnel. The implementation of a wind tunnel allows for efficient natural ventilation and strategic airflow throughout the entire house.

The emphasis on well-placed windows in the ASH House goes beyond mere aesthetics; it is a deliberate strategy to harness the natural elements of the tropical environment. These thoughtfully positioned openings not only infuse the interiors with abundant natural light but also facilitate a constant exchange of fresh air, essential in a tropical climate. Furthermore, the commitment to an open plan on the first floor not only enhances the overall sense of spaciousness but also underscores the practicality of embracing an efficient and interconnected living space.
The sunken living area in ASH House stands out as a distinctive and innovative architectural feature, offering more than just a visual separation of family space. Beyond its aesthetic appeal, this design actively cultivates a heightened sense of connection with other areas, promoting a fluid and integrated living experience. The combination of the sunken design with a double ceiling not only adds to the illusion of spaciousness but also introduces a dynamic layer to the architectural composition, elevating the overall uniqueness of the living space.

ASH House, with its two floors, stands as a meticulously designed tropical architectural gem, blending functionality and aesthetics. From its captivating entrance to its light-filled interior, this dwelling not only embraces its natural surroundings but also redefines the essence of tropical living.

Architecture Firm: Localic Studio
Design Principal(s): Andre Willim Pattikawa, Ruben Betarushi L.
Design Team: Clara Melina
Name of Project: ASH House
Location: Jakarta
Design Period: 2021
Construction Period: 2021-2022
Site Area: 356 sqm.
Floor Area: 160 sqm.
Interior Designer: Localic Studio
Contractor: Bito Kontraktor
Structure: Bito Kontraktor
M&E: Bito Kontraktor
Lighting: Localic Studio
Photographer: Mario Wibowo
PRODUCT SOURCES
Flooring: Roman, Aidi, Torch
Paint: Propan
Waterproofing: Sika
Facade Finishing: Jaya Mulya, Propan
Doors: Forta
Windows: Forta
Ceiling: Jayaboard, GRC
Roof: Monier
Sanitary: Europe Enchanting
Kitchen: Blanco, Modena
General Lighting: In-Lite
LED Lighting: In-Lite
Down Lighting: In-Lite






Leave a Reply
Be the First to Comment!