Pedestrian Jl. Blora Kendal – ARCHINESIA
Widget Image
 

Pedestrian Jl. Blora Kendal

Pedestrian Jl. Blora Kendal

[English text below, provided by the architect] Pedestrian Jl. Blora Kendal menandai sebuah transformasi signifikan di DKI Jakarta, dengan fokus pada penciptaan lingkungan perkotaan yang lebih ramah pejalan kaki dan berkelanjutan. Sebagai bagian dari inisiatif Pengembangan Berbasis Transit (TOD) kota di bawah Rencana Induk MITJ, proyek ini bertujuan untuk mengubah jalan yang sangat padat menjadi zona pejalan kaki yang hidup. Tujuannya adalah untuk meningkatkan konektivitas antara sistem transportasi umum utama, termasuk MRT, KRL, LRT, dan Transjakarta, sambil mempromosikan keselamatan, kenyamanan, dan interaksi pejalan kaki.

Salah satu tantangan utama yang diatasi oleh proyek ini adalah kondisi Jl. Blora Kendal yang terlalu padat, yang berfungsi sebagai pusat berbagai pilihan transportasi, termasuk LRT, MRT, KRL, bus, dan Kereta Bandara. Sebelumnya, jalan ini didominasi kendaraan bermotor dengan minim fasilitas untuk pergerakan pejalan kaki. Namun, seiring dengan pertumbuhan pembangunan di kawasan tersebut, pejalan kaki membutuhkan lebih banyak ruang, dan lalu lintas kendaraan menciptakan keterputusan antar pusat transportasi. Hal ini membuat orang enggan berjalan kaki atau berinteraksi dengan area tersebut. Kurangnya infrastruktur pejalan kaki yang memadai juga berkontribusi pada stagnasi ekonomi di antara bisnis-bisnis di sekitarnya, yang kesulitan menarik pejalan kaki dan menghadapi masalah parkir, meskipun area tersebut sering dilalui oleh pejalan kaki dan komuter.

Untuk mengatasi masalah-masalah ini, tim perencana kota mengembangkan solusi yang mengalihkan lalu lintas kendaraan ke rute alternatif, memungkinkan jalan tersebut sepenuhnya diubah menjadi zona pejalan kaki. Perubahan ini memprioritaskan kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki, mengubah ruang yang dulunya didominasi kendaraan menjadi jalan bersama di mana lalu lintas pejalan kaki didorong. Desain ini mematuhi standar yang lebih baik untuk rasio pejalan kaki terhadap kendaraan, memastikan lingkungan yang aman dan mudah diakses untuk semua pengguna. Selain itu, desain ini menciptakan koneksi yang mulus bagi pejalan kaki, memungkinkan mereka bergerak dengan lancar melalui ruang tersebut dan berinteraksi dengan bangunan dan fasilitas di sekitarnya.

Mengingat lokasi proyek di Jakarta, sebuah kota yang dikenal dengan persimpangan yang kacau dan kepentingan yang bersaing, desain ini juga bertujuan untuk merevitalisasi area tersebut dengan mendorong ruang-ruang perkotaan yang inklusif dan aktif yang mendorong interaksi dan perkumpulan sosial. Dengan menciptakan lingkungan yang ramah bagi pejalan kaki, proyek ini berupaya mengubah paradigma ruang perkotaan di Jakarta, mengembalikan ruang perkotaan kepada pejalan kaki—sebuah praktik yang tidak umum di Indonesia. Proyek ini juga mendorong lebih banyak orang untuk berjalan kaki, berinteraksi dengan lingkungan sekitar dengan nyaman, dan berinteraksi dengan bisnis lokal. Peningkatan ruang pejalan kaki mendorong pemilik toko dan usaha kecil untuk mulai berkembang dan melayani pejalan kaki. Banyak yang mulai merenovasi dan memodernisasi ruang mereka segera setelah zona pejalan kaki baru diperkenalkan.

Tantangan unik yang dihadapi selama proyek ini adalah memahami kebiasaan pejalan kaki di negara-negara tropis. Mengintegrasikan peneduh pohon ke dalam perabot jalan yang sesuai dengan lokasi dan anggaran proyek merupakan sebuah terobosan. Kanopi pohon yang ada dipertahankan dan diperluas, menciptakan ruang-ruang teduh—lapisan penting dalam merancang ruang perkotaan di iklim tropis.

Desain ini juga selaras dengan sistem perencanaan kota Jakarta dengan mengintegrasikan berbagai pemangku kepentingan yang seringkali terpisah satu sama lain. Koordinasi ini menciptakan proyek yang berkelanjutan melalui integrasi infrastruktur perkotaan, seperti jaringan kabel dan pengelolaan air hujan. Eksplorasi yang cermat terhadap standar desain dan regulasi memastikan bahwa transformasi ini mendukung visi jangka panjang kota untuk lingkungan perkotaan yang lebih layak huni dan ramah pejalan kaki.

Kesimpulannya, proyek “Pedestrian Jl. Blora Kendal” adalah langkah penting menuju penataan kembali ruang perkotaan di Jakarta. Dengan mengatasi tantangan jalan yang terlalu padat, infrastruktur pejalan kaki yang buruk, dan stagnasi ekonomi, proyek ini berhasil menciptakan lingkungan yang dinamis dan berkelanjutan yang memperkaya kualitas hidup bagi warga dan pengunjung. Transformasi ini tidak hanya mendukung inisiatif TOD Jakarta tetapi juga mendorong perubahan budaya menuju kehidupan perkotaan yang lebih berkelanjutan dan berfokus pada pejalan kaki.


 

Pedestrian Jl. Blora Kendal

[Text provided by architect] The “Pedestrian Jl. Blora Kendal” project represents a significant transformation in DKI Jakarta, focusing on creating a more pedestrian-friendly and sustainable urban environment. As part of the city’s Transit-Oriented Development (TOD) initiative under the Grand Plan of MITJ, the project aims to convert a heavily congested road into a vibrant pedestrian zone. The goal is to enhance connectivity between key public transport systems, including the MRT, KRL, LRT, and Transjakarta, while promoting pedestrian safety, comfort, and interaction.

One of the primary challenges addressed by this project was the overcrowded state of Jl. Blora Kendal serves as a hub for multiple transportation options, including the LRT, MRT, KRL, buses, and the Airport Train. Previously, vehicles heavily trafficked this road, with minimal provisions for pedestrian movement. However, as development in the area grew, pedestrians required more space, and vehicle traffic created a disconnect between the transportation hubs. This discouraged people from walking or engaging with the area. The lack of proper pedestrian infrastructure also contributed to economic stagnation among surrounding businesses, which struggled to attract foot traffic and faced challenges with parking, even though pedestrians and commuters heavily frequented the area.

To address these issues, the urban planning design team developed a solution that redirects vehicle traffic to alternate routes, allowing the road to be fully transformed into a pedestrian zone. This shift prioritizes pedestrian comfort and safety, turning a formerly vehicle-dominated space into a shared street where foot traffic is encouraged. The design adheres to improved standards for the pedestrian-to-vehicle ratio, ensuring a secure and accessible environment for all users. Additionally, it creates seamless connections for pedestrians, allowing them to move smoothly through the space and interact with surrounding buildings and amenities.

Given the project’s location in Jakarta, a city known for its chaotic intersections and competing interests, the design also aims to revitalize the area by fostering inclusive, active urban spaces that encourage social interaction and gathering. By creating a welcoming environment for pedestrians, the project seeks to change the paradigm of urban spaces in Jakarta, giving urban spaces back to pedestrians—an uncommon practice in Indonesia. It also encourages more people to walk, engage with their surroundings comfortably, and interact with local businesses. The increased pedestrian space prompted shop owners and small businesses to start growing and serving pedestrians. Many began renovating and modernizing their spaces immediately after the new pedestrian zones were presented.

A unique challenge encountered during this project was understanding pedestrian habits in tropical countries. Incorporating tree shelters into street furniture that fit both the site and the project budget was a breakthrough. Existing tree canopies were preserved and expanded, creating shaded spaces—an essential layer in designing urban spaces in tropical climates.

The design also aligns with Jakarta’s urban planning system by integrating multiple stakeholders who are often disconnected from one another. This coordination creates a sustainable project through the integration of urban infrastructure, such as wiring and stormwater management. Careful exploration of design and regulatory standards ensures that the transformation supports the city’s long-term vision of a more livable, walkable urban environment.

In conclusion, the “Pedestrian Jl. Blora Kendal” project is a vital step toward reimagining urban spaces in Jakarta. By addressing the challenges of overcrowded roads, poor pedestrian infrastructure, and economic stagnation, the project successfully creates a dynamic and sustainable environment that enriches the quality of life for both residents and visitors. This transformation not only supports Jakarta’s TOD initiative but also fosters a cultural shift toward more sustainable, pedestrian-focused urban living.


 

Architecture Firm: SASO architecture studio
Design Principal(s): Andi Subagio
Design Team: Putri Titis, Nur Hary, Nirel Al-Hamid

Name of Project: Pedestrian Jl. Blora Kendal
Location: Blora Kendal Street, Central Jakarta
Owner: PT. Integrasi Transit Jakarta
Design Period: 2022
Construction Period: 2023
Site Area: 2,987 sqm.
Contractor: Jaya Konstruksi
Structure: PT. Tangguh Duta Merlin
M&E: PT. Tangguh Duta Merlin
Lighting: PT. Tangguh Duta Merlin

PRODUCT SOURCES
Flooring: PT. Hari Puas n Son, PT. Artha Bangun Karya, PT. MSG
Walls: PT. Pionir Beton, PT. MSG
Furniture: PT. MSG, PT. Milan Ecowood, PT. Artha Bangun Karya
General Lighting: Philips by PT. Altamaya Teknik Mandiri


 

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X