Jendela Roemah Kita 2: Adaptasi dan Eksperimen di Tengah Kesederhanaan – ARCHINESIA
Widget Image

Jendela Roemah Kita 2: Adaptasi dan Eksperimen di Tengah Kesederhanaan

Jendela Roemah Kita 2: Adaptasi dan Eksperimen di Tengah Kesederhanaan

Presented by Miftah Syahrudin from Midun And Partner Architects, at ARCHINESIA “10X10=INFINITY” in Ciputra Artpreneur; Tuesday, October 1, 2024

[English text below] Terletak di Selomandang, Jawa Tengah, Jendela Roemah Kita 2 merupakan pengembangan dari villa sebelumnya yang sudah lebih dulu berdiri di lokasi yang sama. Jika villa pertama hanya memiliki satu kamar dan kolam renang pribadi, versi keduanya menawarkan tiga kamar tidur dan satu kolam renang bersama. Meski skalanya lebih besar, semangat keintiman dan keterhubungan dengan lanskap tetap menjadi inti rancangan.

Villa ini dirancang sebagai tempat singgah yang sederhana namun menyenangkan. Orientasi bangunan menghadap langsung ke Gunung Merapi dan hamparan sawah di kejauhan. Setiap kamar memiliki akses langsung ke kolam renang, bahkan salah satunya dilengkapi shower yang terhubung ke area luar. Hal ini menciptakan transisi alami antara ruang dalam dan luar. Ruang bersama menjadi titik temu utama, tempat penghuni berkumpul sambil menikmati pemandangan terbuka. Area ini ditempatkan sejajar dengan kolam dan lanskap sawah untuk menghadirkan pengalaman ruang yang lapang dan santai.

Karakter visual Jendela Roemah Kita 2 tetap mempertahankan elemen lengkung dari villa pertamanya sebagai identitas visual. Namun, proses pembangunannya tidak tanpa tantangan. Tanpa kehadiran langsung di lapangan, koordinasi dilakukan secara daring bersama tukang lokal. Keterbatasan sumber daya dan kemampuan konstruksi justru membuka ruang bagi proses belajar bersama. Misalnya, saat lengkung fasad tidak terbentuk sesuai gambar, tim membuat mal sebagai panduan agar tukang memahami bentuk yang diinginkan. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana komunikasi dan pendampingan intensif mampu menjaga kualitas hasil akhir meski dalam keterbatasan.

Eksperimen juga terlihat pada area ruang singgah—ruang semi-terbuka yang menjadi pusat kegiatan sekaligus elemen visual utama. Dinding batu yang semula direncanakan dari material alami diganti dengan teknik pengecatan bermotif batu demi menekan biaya. Alih-alih menjadi kompromi, keputusan ini justru melahirkan bentuk kreativitas baru dalam menyiasati keterbatasan. Hasilnya adalah ruang yang hangat dan personal, memadukan nilai estetika, efisiensi, dan improvisasi.

Jendela Roemah Kita 2 memang tidak dibangun dengan kemegahan atau bujet besar. Namun, proyek ini melahirkan gagasan tentang arsitektur yang adaptif, komunikatif, dan bersahaja. Ia menunjukkan bahwa desain yang baik tidak selalu bergantung pada kemewahan material atau sistem konstruksi yang kompleks, melainkan pada komitmen untuk menjaga ide dan kualitas ruang—apa pun tantangannya. (uci)


 

Jendela Roemah Kita 2: Adaptation and Experimentation Amidst Simplicity

Located in Selomandang, Central Java, Jendela Roemah Kita 2 is a continuation of the previous villa that once stood on the same site. While the first villa featured only one bedroom and a private pool, this second version expands its capacity with three bedrooms and a shared pool. Despite the larger scale, the design maintains its core spirit of intimacy and connection with the surrounding landscape.

The villa is conceived as a simple yet delightful retreat. Its orientation opens directly toward Mount Merapi and the surrounding rice fields. Each bedroom has direct access to the pool, and one of them even features an outdoor shower—creating a seamless transition between interior and exterior spaces. The shared living area serves as the central gathering point, where guests can enjoy the open view. Positioned parallel to the pool and the rice fields, this area enhances the sense of spaciousness and relaxation.

The visual character of Jendela Roemah Kita 2 retains the curved elements that defined the first villa, forming its distinct architectural identity. However, the construction process presented its own set of challenges. Without direct supervision on-site, coordination with local builders was conducted entirely online. Limited resources and varying construction skills became opportunities for mutual learning. For instance, when the curved façade didn’t match the drawings, a physical mold was created to help the builders better understand the intended shape. This approach illustrates how communication and close guidance can preserve design quality even under constraints.

Experimentation also appears in the semi-open gathering space—a social hub that doubles as a key visual element. The stone wall, initially planned with natural materials, was replaced by hand-painted stone textures to reduce costs. Rather than a compromise, this decision sparked a new form of creativity in navigating limitations. The result is a warm and personal space that balances aesthetics, efficiency, and improvisation.

Jendela Roemah Kita 2 may not have been built with grandeur or a large budget, but it embodies ideas of adaptive, communicative, and humble architecture. It demonstrates that good design doesn’t depend on luxurious materials or complex construction systems, but on the commitment to uphold ideas and spatial quality—no matter the challenges. (uci)


 

 

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X