Villa Batu: Framing Alam, Mencipta Ruang di Antara Geometri
Presented by Raymond Halim from ANTI-architecture, at ARCHINESIA “10X10=INFINITY” in The Westin Hotel Surabaya; Thursday, September 18, 2025
[English text below] Villa Batu berlokasi di kota Batu, Malang—kawasan berhawa sejuk yang dikelilingi pepohonan pinus dan pemandangan Gunung Panderman. Proyek ini berawal dari keinginan klien untuk memanfaatkan tiga bidang tanah kosong menjadi vila keluarga yang dapat disewakan. Namun, alih-alih menempatkan tiga massa bangunan secara linear, rancangan justru dimulai dengan membalik orientasi tapak. Akses yang semula lurus diubah 90 derajat, menghasilkan komposisi massa yang saling berputar arah.


Dari keputusan sederhana itu, muncul banyak hal. Privasi antar unit tetap terjaga, setiap vila mendapat bukaan pandang ke arah gunung dan kota, dan hubungan visual dengan lanskap sekitar menjadi lebih kaya. Ketiga vila disusun mengikuti kontur menurun, menciptakan kesan melayang yang ringan. Di antara massa bangunan, terbentuk ruang luar yang tidak simetris, namun memberi pengalaman spasial yang berlapis. Vegetasi diletakkan di sela-sela bangunan sebagai penyaring pandangan sekaligus bagian dari narasi ruang yang mengalir.

Framing pun menjadi elemen penting di Villa Batu. Setiap bukaan dirancang untuk membingkai pemandangan berbeda: gunung, pepohonan pinus, atau cahaya kota di malam hari. Rangkaian bukaan ini membentuk sekuens ruang yang menuntun penghuni dari pintu masuk hingga ruang keluarga, dari kamar hingga balkon. Di setiap titik, framing menghadirkan pengalaman visual yang unik.

Selain itu, setiap unit memiliki area semi-terbuka yang terhubung dengan taman dan infinity pool di bagian bawah. Kolam ini menjadi elemen komunal yang menyatukan ketiga vila tanpa menghilangkan privasi masing-masing. Material yang digunakan tetap sederhana—cat bertekstur dan batu alam—namun cukup untuk memperlihatkan kedalaman, cahaya, dan karakter geometris bangunan. Dengan dua material utama ini, bentuk dan proporsi menjadi pusat ekspresi arsitektur.
Villa Batu menunjukkan bagaimana permainan geometri, proporsi, dan konteks dapat melahirkan arsitektur yang tenang namun kuat. Ia berdiri di tengah hutan pinus, melayang di atas kontur, dan berbicara melalui cahaya serta bayangan—sebuah karya yang merayakan lanskap lewat bingkai-bingkai ruang yang jernih dan puitis. (uci)

Villa Batu: Natural Framing, Creating Space Between Geometry

Villa Batu is located in Batu, Malang—a cool highland city surrounded by pine forests and the scenic view of Mount Panderman. The project began with the client’s wish to turn three vacant plots into a family villa complex that could also be rented out. Instead of arranging the three buildings linearly, the design process started by reorienting the site. The original straight access was rotated 90 degrees, resulting in a composition of masses that face different directions.

From that simple decision, many spatial qualities emerged. Privacy between units is maintained; each villa enjoys a clear view toward the mountains and the city, and the visual relationship with the surrounding landscape becomes richer. The three villas are arranged along the sloping contour, creating a light and floating impression. Between the building masses, irregular open spaces form, offering layered spatial experiences. Vegetation is placed between the villas to filter views while also becoming part of a continuous spatial narrative.


Framing plays an essential role in Villa Batu. Every opening is carefully designed to frame a specific view—of the mountain, pine trees, or the city lights at night. These openings create a spatial sequence that guides occupants from the entrance to the living area, and from the bedrooms to the balconies. At every point, framing shapes a distinct visual experience.

Each unit also features a semi-open area that connects to a garden and an infinity pool below. The pool serves as a communal element that links the three villas while maintaining each unit’s privacy. The material palette remains simple—textured paint and natural stone—yet sufficient to express depth, light, and the building’s geometric character. With these two main materials, form and proportion become the core of architectural expression.
Villa Batu demonstrates how geometry, proportion, and context can give rise to architecture that feels serene yet powerful. It stands among the pine trees, hovering above the contours, speaking through light and shadow—a work that celebrates the landscape through clear and poetic frames of space. (uci)









Leave a Reply
Be the First to Comment!