Beyond the Booth: Ketika Instalasi Dirancang untuk Bertahan – ARCHINESIA
Widget Image
 

Beyond the Booth: Ketika Instalasi Dirancang untuk Bertahan

Beyond the Booth: Ketika Instalasi Dirancang untuk Bertahan

Di balik hiruk-pikuk pameran bahan bangunan, ada satu pertanyaan yang kerap luput dibicarakan: apa yang terjadi setelahnya? Bagi banyak brand, instalasi yang dibangun dengan intensitas tinggi sering kali berakhir sebagai struktur sementara—dibongkar, ditinggalkan, atau bahkan menjadi limbah. Di titik inilah SANDEI mengambil posisi yang berbeda. Dengan perhatian kuat terhadap keberlanjutan, mereka tidak hanya memikirkan bagaimana sebuah booth tampil selama pameran berlangsung, tetapi juga bagaimana ia dapat terus hidup setelahnya—digunakan kembali, dipindahkan, dan beradaptasi dalam konteks baru.

Pendekatan ini kemudian bertemu dengan filosofi utama SANDEI tentang motion and senses. Bahwa produk yang baik tidak berhenti pada performa teknis, melainkan mampu membangun pengalaman yang melibatkan indra. Dari sinilah “Sensory & Experiential Layer: Synthesis of Motion and Senses” di ARCH: ID 2026 lahir.

Instalasi ini hadir sebagai sistem modular yang dapat dirakit dan dibongkar dengan kesadaran penuh akan siklus hidupnya. Dirancang oleh Studio S+AO dan dikembangkan bersama Wonders of Weaving, Dharmawan, serta ByoLiving, paviliun ini mengaburkan batas antara instalasi dan arsitektur—antara yang sementara dan yang berkelanjutan. Dalam perwujudannya, SANDEI juga berkolaborasi dengan Somfy, serta didukung oleh alvinT dan SKAYU. Tidak hanya itu, brand kopi GUTEN MORGEN turut menjadi bagian dari atmosfer ruang yang dibangun.

Alih-alih menghadirkan produk dari SANDEI sebagai objek display, arsitek mengintegrasikannya ke dalam lapisan ruang yang dinamis.

Motorised zipper exterior dan operable glass diaplikasikan sebagai pembatas ruang yang tidak masif—bukan untuk memisahkan secara kaku, melainkan memberi kemungkinan interaksi. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga dapat menyentuh, menggeser, dan mencoba langsung bagaimana sistem ini bekerja dalam membentuk ruang. Sementara itu, skylight zipper ditempatkan pada bagian atap booth sebagai elemen yang dapat “dimainkan”, membuka bayangan tentang bagaimana cahaya alami dapat diatur dalam konteks arsitektur yang lebih luas. Di dalam ruang, Sheerline hadir sebagai lapisan yang memperlihatkan kualitas transparansi sekaligus sistem kerjanya secara langsung—bagaimana material, mekanisme, dan cahaya saling berinteraksi membentuk atmosfer.

Gerak pun menjadi narasi utama yang terasa secara langsung oleh tubuh. Panel yang dapat digeser, lapisan yang bisa dibuka-tutup, hingga konfigurasi ruang yang berubah melalui interaksi menjadikan paviliun ini sebagai entitas yang selalu dalam proses. Modularitas di sini tidak hanya berbicara tentang efisiensi atau konstruksi, tetapi tentang pengalaman—bagaimana ruang dapat diuji, dipahami, dan terus berevolusi, baik selama pameran maupun ketika ia hadir kembali dalam konteks yang berbeda.

Komitmen terhadap keberlanjutan juga tercermin dalam eksplorasi material. Melalui pendekatan from waste blind to solid panel dari COPPO BOARD, SANDEI mengolah sisa material blinds menjadi panel fungsional, menghadirkan kemungkinan baru bagi material yang sebelumnya dianggap limbah. Sebuah proses yang tidak hanya memperpanjang umur material, tetapi juga memperkaya narasi desain itu sendiri.

Pada akhirnya, paviliun ini bukan hanya tentang bagaimana sebuah ruang terlihat, tetapi bagaimana ia bekerja dan bertahan. SANDEI menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak harus hadir sebagai kompromi, melainkan dapat menjadi dasar dari pengalaman ruang yang lebih kaya—di mana gerak, cahaya, dan material berpadu untuk menciptakan sesuatu yang tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan, dan diingat. (uci)

 

Advetorial article.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X