Arsitektur Perpindahan: Relokasi dan Adaptasi di Tengah Ketidakpastian Perubahan – ARCHINESIA
Widget Image
 

Arsitektur Perpindahan: Relokasi dan Adaptasi di Tengah Ketidakpastian Perubahan

Arsitektur Perpindahan: Relokasi dan Adaptasi di Tengah Ketidakpastian Perubahan

Presented by Marina Tabassum from Marina Tabassum Architects, at ARCH: ID 2026 International Conference “Architecture Forum” in ICE BSD; Friday, April 24, 2026

Dalam sesi konferensi International Architecture Forum, Marina Tabassum membagikan ceritanya dalam memberdayakan masyarakat rentan (vulnerable) dan terpinggirkan (marginalized community) di tengah realita perubahan iklim, geografis, dan sosial di Bangladesh. 

Melalui perspektifnya, ia membedah bagaimana arsitektur harus merespons kondisi Bangladesh sebagai negara dengan sistem hidrologi permukaan yang sangat dinamis. Wilayahnya terdiri dari tiga sungai utama, yakni Sungai Yamuna (terusan Sungai Gangga), Sungai Padma, dan Sungai Meghna, serta 54 aliran sungai lainnya yang melintasi batas negara dan berhilir di Teluk Benggala. Kondisi ini menjadikan Bangladesh sebagai negara dengan delta sungai terluas di dunia.

Letak geografis Bangladesh yang berada di hilir menyebabkan perubahan struktur sungai menjadi sangat dinamis akibat limpahan air dalam jumlah besar dari hulu. Terlebih lagi, dampak perubahan iklim semakin memperberat beban daya tampung sungai seiring meningkatnya intensitas pencairan gletser di pegunungan Himalaya dan tingginya curah hujan di kawasan sekitarnya. Fenomena ini berdampak pada penduduk sekitar yang terpaksa mengungsi atau kehilangan harta benda akibat perluasan sempadan sungai serta banjir bandang yang semakin sering terjadi.

Salah satunya adalah penduduk yang tinggal di kawasan hilir Sungai Meghna. Limpahan air yang membawa sedimentasi dalam jumlah besar telah mengubah lanskap utama kawasan, dari permukaan tanah yang subur menjadi hamparan endapan pasir (sand bed). Kondisi tanah yang berpasir dan jenuh air tersebut menjadikannya sangat sensitif terhadap perubahan, sehingga penduduk menjadi sangat rentan terhadap dinamika struktur hidrologi maupun geografis ketika curah hujan meningkat.

Perubahan yang terjadi secara berkala ini telah memengaruhi cara hidup penduduk untuk menjadi sangat adaptif. Mereka tidak dapat membangun bangunan permanen akibat struktur tanah yang tidak stabil, serta harus terus melakukan relokasi karena kondisi kawasan yang jenuh air tidak memadai untuk ditinggali secara menetap. Melihat fenomena tersebut, Marina Tabassum Architects mengambil langkah radikal namun sederhana dengan menjadikan perpindahan dan air sebagai ritme kehidupan. Ia merancang konsep Khudi Bari, sebuah rumah shelter modular bertingkat yang disusun dari bambu dan dihubungkan melalui lempengan besi (joints) yang dapat dibongkar pasang. Selain rangka struktur utama, bambu juga digunakan sebagai material untuk struktur lantai, dinding, hingga rangka atap. Secara fungsional, lantai dua rumah ini digunakan sebagai ruang tidur dan tempat berlindung, sedangkan bagian bawahnya difungsikan sebagai tempat memasak atau berteduh ketika musim kemarau.

Selain penyediaan shelter untuk memenuhi kebutuhan mendasar bagi penduduk, langkah utama yang dilakukan Marina Tabassum Architects ialah membangun upaya kolektif masyarakat untuk dapat bertahan dalam kondisi lingkungan yang keras ini. Alih-alih memberikan unit jadi, ia membangun lokakarya yang mengajarkan tentang bagaimana mengolah bambu, merakitnya, dan mendirikan kerangka ringan. Dengan demikian, pengetahuan ini dapat diwariskan secara informal dan direplikasi oleh masyarakat lainnya. Secara keseluruhan, setiap unit hanya memerlukan biaya sekitar 300 USD, angka yang masih wajar untuk diakomodasi oleh masyarakat, dan setiap komponennya mudah dijangkau atau tersedia secara memadai di pasar lokal. Langkah ini ditujukan untuk menciptakan masyarakat yang lebih mandiri tanpa perlu menunggu bantuan atau bergantung pada kondisi eksternal.

Melalui langkah kolektif dan strategis ini, Marina Tabassum Architects berkolaborasi dengan korporasi untuk bantuan pendanaan agar praktik ini dapat diperluas jangkauannya ke desa-desa rentan di sepanjang Sungai Yamuna dan Padma. Selain itu, melalui Foundation for Architecture and Community Equity (FACE), ia menyempurnakan aspek teknis dan menyebarluaskan praktik ini ke seluruh negeri. Ia bahkan bekerja sama dengan lembaga internasional untuk menyalurkan bantuan berupa hunian layak bagi para pengungsi di kamp pengungsi Rohingya, kawasan Cox’s Bazar, Bangladesh.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X