Visual Art Menjadi Pengalaman Ruang

Dalam pertunjukan teater dan festival musik, visual tidak lagi berperan sekadar sebagai elemen pendukung. Sebaliknya, visual menjadi medium utama yang membentuk bagaimana audiens merasakan sebuah momen. Gagasan ini dirangkum dalam konsep ephemerality: designing fleeting moments—sebuah pendekatan yang berfokus pada penciptaan pengalaman yang bersifat sementara, namun tetap meninggalkan kesan yang mendalam.

Banyak proyek skala besar yang dikerjakan Isha Hening, termasuk festival. Selain itu, ia juga mengerjakan konser stadion serta instalasi imersif. Dalam salah satu proyek yang digarap olehnha di Sphere, Las Vegas, misalnya, ia berfokus pada aspek teknis untuk memastikan visual dapat berfungsi secara presisi dalam ruang yang kompleks. Eksplorasi terhadap persepsi juga diwujudkan melalui optical illusions, di mana satu medium yang sama dapat menghadirkan pengalaman visual yang berbeda.
Tidak hanya itu, dalam instalasi, pendekatannya menjadi lebih spasial dan interaktif. Audiens tidak hanya melihat, tetapi juga bergerak dan mengalami ruang secara langsung. Berbagai medium digunakan, mulai dari proyeksi hingga struktur LED yang dinamis, yang menuntut ketelitian tinggi dalam penyusunan konten.
Pada akhirnya, praktik ini memiliki kesamaan mendasar dengan arsitektur: presence. Seperti halnya bangunan, karya visual tidak hanya untuk dilihat, tetapi untuk dialami secara langsung. Di situlah momen yang singkat justru memperoleh maknanya. (flw)
Leave a Reply
Be the First to Comment!