Emotional Architecture: Menjelajahi Ruang, Rasa dan Makna – ARCHINESIA
Widget Image
 

Emotional Architecture: Menjelajahi Ruang, Rasa dan Makna

Emotional Architecture: Menjelajahi Ruang, Rasa dan Makna

Dalam forum ARCH:ID 2026, Helen Agustine merefleksikan kembali upayanya dalam memberikan “nyawa” pada setiap ruang yang ia sentuh. Baginya, arsitektur bukan sekadar persoalan gubahan massa, melainkan tentang menangkap pengalaman, rasa, dan maksud yang tersirat di balik keberadaannya. Perjalanan ini bermula dari bangku perkuliahan, di mana ia pertama kali mengenal arsitektur sebagai langkah untuk mengakomodasi aktivitas manusia melalui kacamata fungsi. Namun, perspektifnya bertransformasi secara mendalam saat ia menempuh pendidikan di Inggris. Di sana, Helen mulai menyelami kesadaran bahwa bangunan bukanlah objek statis, melainkan entitas yang memiliki narasi dan perjalanan hidupnya sendiri.

Manifestasi dari visi tersebut mewujud nyata dalam ketertarikannya untuk merestorasi bangunan-bangunan lama di Bandung. Salah satu perjalanannya tertambat pada sebuah ruko tiga lantai di kawasan bersejarah, Jalan Braga, yang sempat terbengkalai dan tampak kumuh. Di tengah kondisi yang terabaikan itu, Helen justru menemukan karakteristik arsitektur kolonial (Art Deco) yang kuat—sebuah “cerita” yang menunggu untuk diangkat kembali. Melalui intuisi desainnya, ia menggubah ruko tersebut menjadi sebuah boutique hotel dengan mempertegas napas Contemporary Art Deco, sekaligus memberikan visual, fungsi, dan makna baru bagi bangunan tersebut.

Cerita lainnya yang dibagikan Helen Agustine dalam mengolah rasa menjadi arsitektur ialah pengalamannya saat mengandung dan menjadi seorang ibu. Melalui proyek “A Beautiful Mess”, Helen merepresentasikan pengalaman fisik dan emosional seorang ibu di tengah beragam perasaan sakit, sedih, senang, dan bahagia. Selain pengalaman pribadinya, Helen turut mewawancarai para ibu yang juga berbagi cerita mereka. Seluruh perasaan ini ia terjemahkan melalui sebuah instalasi ruang kaca persegi dengan struktur hyperbolic yang disusun dari potongan-potongan rajutan blind roller sisa. Bentuk ini merepresentasikan rahim seorang ibu yang turut diterangi oleh breathing light untuk menciptakan kesan ritme dari detak kehidupan.

Atas saran suaminya, Helen berkolaborasi dengan fotografer dan penulis untuk memberikan makna lebih dalam kepada karya ini, karena tidak semua orang dapat memahaminya secara langsung. Selain itu, ia juga membentuk sebuah website untuk menyebarkan pengalaman emosional ini kepada seluruh ibu, guna menyampaikan pesan bahwa mereka tidak sendirian. (oda)

 

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X