Rumah Sore 2
[English text below] Rumah Sore 2 dirancang sebagai rumah kedua bagi sepasang suami-istri yang sebagian besar waktunya dihabiskan bekerja di luar kota. Hunian ini ditujukan sebagai tempat beristirahat sekaligus rumah masa pensiun, yang mampu menampung pasangan tersebut, enam anak mereka, serta anggota keluarga besar, termasuk yang sudah lanjut usia. Pada lahan 10 x 20 meter, arsitek dihadapkan pada tantangan menghadirkan ruang yang lapang bagi interaksi keluarga, sambil tetap menjaga kenyamanan dan aksesibilitas.

Berangkat dari nilai budaya Bugis yang menjunjung tinggi keramahan dan kebersamaan, desain rumah ini menitikberatkan pada ruang-ruang yang mendorong keluarga maupun tamu untuk berkumpul—baik dalam acara yang terencana maupun pertemuan spontan. Arsitek merancang tata ruang agar interaksi tetap bisa terjadi antar-lantai maupun antar-ruang. Pencahayaan alami dan penghawaan silang juga menjadi elemen penting, dipandang sebagai kunci untuk meningkatkan kesehatan sekaligus kenyamanan penghuni.

Bangunan dibagi menjadi dua massa, masing-masing setinggi tiga lantai, yang dipisahkan oleh sebuah void tengah. Konsep split-level memungkinkan tangga dibuat dengan kemiringan landai sehingga mudah diakses oleh orang tua hingga ke atap, tempat penghuni dapat menikmati pemandangan laut. Tangga yang bersebelahan dengan kolam renang sekaligus berfungsi sebagai poros ventilasi yang mengatur sirkulasi udara, menjaga suhu dalam ruangan, serta mengurangi kelembapan. Void tengah ini menjadi jantung rumah—sebuah ruang interaksi visual dan aktivitas yang menghubungkan area makan, ruang keluarga, hingga kamar tidur di berbagai lantai. Kedua sisi bangunan dibiarkan terbuka agar setiap ruang memiliki akses cahaya dan udara alami.


Strategi spasial mengusung tema Ibiza-Mediterania yang diadaptasi untuk iklim tropis, menggabungkan kesan mewah namun tetap sederhana. Rumah memiliki dua akses utama: dari foyer serta dari garasi yang terhubung langsung ke dapur. Zonasi ruang ditata berlapis, dengan foyer yang terhubung ke kamar tamu, ruang makan, serta kolam renang, sementara tangga mengarah ke ruang keluarga dan kamar-kamar tidur. Kamar utama dan ruang ibadah ditempatkan di lantai dua sebagai pusat sirkulasi, sehingga anak-anak selalu melewati ruang tersebut saat menuju kamar masing-masing. Posisi ini sengaja dirancang agar interaksi dan kebersamaan keluarga tetap terjalin. Di dekat ruang keluarga, area servis berupa ruang cuci dan setrika dirancang untuk mendukung kemandirian anak-anak, sejalan dengan pilihan keluarga yang tidak menggunakan asisten rumah tangga.
Lokasi proyek yang berjarak sekitar 160 kilometer dari Makassar menghadirkan tantangan tersendiri. Pembangunan tidak melibatkan kontraktor formal, melainkan mengandalkan tukang lokal pilihan klien dengan arsitek yang berperan sebagai pengawas dan pendamping teknis. Pemilihan material didasarkan pada ketersediaan, kemudahan aplikasi, dan perawatan: dinding bertekstur alami, kombinasi besi dan kayu, serta elemen air yang menegaskan karakter tropis rumah ini. Keseluruhan material memperkuat suasana sederhana namun tetap bernuansa hangat dan berkarakter
Rumah Sore 2 tidak hanya berfungsi sebagai hunian, tetapi juga sebagai narasi ruang tentang keluarga, budaya, dan hidup yang dijalani dengan tenang di masa pensiun. Melalui strategi desain yang cermat—aksesibilitas split-level, void tengah yang mempertemukan penghuni, hingga pilihan material yang jujur—rumah ini menjadi contoh bagaimana arsitektur tropis dapat menekankan kebersamaan, kesehatan, dan kenyamanan jangka panjang.

Rumah Sore 2
Rumah Sore 2 was conceived as a secondary home for a married couple who spend most of their time working outside the city. Designed to be both a retreat and a future retirement residence, the house accommodates not only the couple but also their six children and extended family members, some of whom are elderly. On a compact 10 x 20 meter site, the architect faced the challenge of creating generous spaces for family interaction while ensuring accessibility and comfort.

Rooted in Bugis cultural values of hospitality and togetherness, the design emphasizes spaces where family and guests can gather—whether for planned or spontaneous events. To reinforce this sense of connection, the architect designed the spatial arrangement to allow interaction to occur across floors and between rooms. Light and ventilation play equally important roles, with natural illumination and airflow considered essential for enhancing both health and comfort for occupants.

The house is organized into two building masses, each three stories high, separated by a central void. A split-level configuration allows for gentle stair gradients, making every level—including the rooftop with its sea views—accessible for elderly family members. The stairwell, located adjacent to the swimming pool, doubles as a ventilation shaft that facilitates cross-ventilation and helps regulate indoor temperatures. This central void becomes the heart of the home: a visual and spatial connector where conversations and activities flow between living, dining, and recreational areas across multiple floors. Open side yards flank the building masses, ensuring every interior space benefits from outdoor access, natural light, and ventilation.


The spatial strategy adopts an Ibiza-Mediterranean theme reinterpreted for the tropics, blending luxury with simplicity. The layout provides two main access points—through the foyer or via the garage that connects directly to the kitchen. Social and private areas are carefully layered: the foyer leads to guest rooms, the pool, and the dining room, while stairs connect to a family movie room and the bedrooms. The master bedroom and prayer room occupy a central position on the second floor, intentionally placed so that children must pass by these spaces to reach their own rooms. This circulation strategy fosters daily interaction, shared rituals, and opportunities for parents to guide their children. A service core adjacent to the family room integrates laundry facilities, encouraging children to take part in household tasks independently—reflecting the family’s choice to live without domestic helpers.
Given the site’s remote location, approximately 160 kilometers from Makassar, construction relied on local builders instead of a formal contractor. The architect’s team worked closely with them, supervising material selection and execution to ensure design fidelity. Materials were chosen for their simplicity, availability, and ease of maintenance: textured wall finishes in natural tones, a balance of wood and iron details, and water elements that reinforce the tropical character. Together, these choices establish a tactile and atmospheric quality that aligns with the house’s overall theme.
Rumah Sore 2 is more than a residence; it is a spatial narrative about family, culture, and aging gracefully in place. Through its thoughtful design strategies—split-level accessibility, a central void for interaction, and material honesty—it embodies a model for tropical family homes that privilege togetherness, health, and enduring comfort.
Architecture Firm: MIV Architects
Design Principal(s): M. Ikhsan Hamiru
Design Team: Alfachri K, Andi Nindyah E, Fitri Abbas, Sahrul Mubaraq, Izan
Name of Project: Rumah Sore 2
Location: Parepare, South Sulawesi
Design Period: 2021
Construction Period: 2021–2022
Site Area: 200 sqm.
Floor Area: 324 sqm.
Interior Designer: MIV Architects
Landscape: by owner
Contractor: by owner
Structure: Olan Sanggaria
M&E: Sapto Bagus
Lighting: Sukriadi
Photographer: Agung Fardiansyah










Leave a Reply
Be the First to Comment!