Indonesia Design District x ARCHINESIA: Sustainability dalam Konteks
Setiap arsitek memiliki pemahaman dan definisi sustainability yang berbeda. Pemahaman tersebut kerap muncul dari konteks tempat, maupun pengalaman praktik. Perbedaan juga terlihat pada bagaimana sustainability diterapkan dalam desain. Perspektif inilah yang menjadi benang merah Forum Arsitektur ARCHINESIA #66 “Sustainability in Local Context.” Kolaborasi Indonesia Design District (IDD) dan ARCHINESIA kali ini menghadirkan Wiyoga Nurdiansyah dari Wiyoga Nurdiansyah Architects, serta Gregorius Supie Yolodi dan Maria Rosantina dari Yolodi+Maria Architects. Acara berlangsung di Showroom Sandimas–Propan dan dimoderatori oleh Adi Janitra.

Wiyoga Nurdiansyah memulai diskusi dengan sikap kritis terhadap istilah sustainability. Menurutnya, istilah ini sering terasa berat dan normatif. Padahal, dalam konteks Indonesia, sustainability bisa dibaca dengan cara yang lebih sederhana dan membumi. Salah satunya dengan membaca ulang konteks lokal.
Melalui proyek rumah kayu di Lombok pascagempa 2018, Wiyoga menunjukkan ketangguhan arsitektur vernakular. Struktur kayu lokal terbukti lebih adaptif terhadap kondisi gempa dibandingkan konstruksi beton. Pendekatan serupa juga terlihat pada proyek hotel skala kecil di kawasan Blok M. Wiyoga membaca keberlanjutan dari gagasan perencanaan kota lama.
Bagi Wiyoga Nurdiansyah, Sustainability in Local Context tidak berkaitan dengan sertifikasi atau teknologi canggih. Ia lebih menekankan kepekaan dalam membaca konteks. Sustainability hadir ketika arsitektur mampu bertahan dan beradaptasi. Relevansi sosial dan budaya menjadi sama pentingnya dengan ketahanan fisik bangunan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan Yolodi+Maria Architects. Bagi mereka, sustainability tidak dimulai dari teknologi atau sistem bangunan. Ia justru berangkat dari pemahaman ruang dan tempat. Diskursus sustainability yang terlalu teknis dianggap kurang relevan dengan praktik sehari-hari di Indonesia.
Untuk membaca sustainability secara lebih kontekstual, Yolodi+Maria menggunakan kerangka 3C. Culture menjadi fondasi utama desain. Ia mencakup cara hidup, nilai, dan praktik lokal. Conservation dimaknai lebih luas, tidak hanya pada bangunan lama, tetapi juga air, energi, alam, dan sumber daya. Sementara Carbon diposisikan sebagai indikator akhir. Ia merupakan konsekuensi dari keputusan desain, bukan tujuan tunggal.
Kerangka ini tercermin dalam proyek Pustaka Desa Waran Danu di Donggala. Sustainability dimaknai sebagai relevansi sosial, struktural, dan kultural. Bangunan hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Bukan sebagai objek yang terpisah dari konteksnya. Sementara itu, pada proyek Bali Beach Hotel, sustainability dibaca melalui konservasi nilai sejarah. Memori kolektif dan identitas tempat menjadi aspek utama yang dijaga.


Melalui Forum Arsitektur ARCHINESIA #66, diskusi sustainability dibuka dari berbagai sudut pandang. Tidak ada satu definisi yang mutlak. Yang ada adalah beragam cara membaca konteks dan meresponsnya melalui desain. Sebuah pengingat bahwa sustainability, dalam praktik arsitektur, selalu bersifat situasional dan kontekstual. (uci)


Leave a Reply
Be the First to Comment!