Elemen Desain untuk Sertifikasi Green Building – ARCHINESIA
Widget Image
 

Elemen Desain untuk Sertifikasi Green Building

Elemen Desain untuk Sertifikasi Green Building

Presented by Yodi Danusastro at Webinar Green Building: Biophilic Design & Eco-Architecture, July 2, 2022

Saat merancang sebuah bangunan, seorang arsitek ataupun desainer bisa mencari advice mengenai green building kepada konsultan green building. Salah satunya adalah Yodi Danusastro dari PT. Yodaya Hijau Bestari yang telah mengkaji lebih dari 100 bangunan hijau. Dalam Webinar Green Building: Biophilic Design & Eco-Architecture, ia pun berbagi mengenai sertifikasi green building dan elemen apa yang perlu diperhatikan oleh arsitek maupun desainer dalam merancang bangunan hijau.

Sertifikasi green building merupakan sebuah gerakan global yang hampir ada di seluruh dunia. Saat ini, sertifikasi yang bisa diaplikasikan di Indonesia adalah GREENSHIP dan EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies). Ada pula BGH yang dikeluarkan oleh Kementerian Perumahan Umum dan Perumahan Rakyat. Sertifikat inilah yang kedepannya menjadi persyaratan seluruh bangunan di IKN Nusantara. Oleh karenanya, semua pihak harus mempelajari tentang ini. Tidak mengherankan pula bahwa di perguruan tinggi juga sudah mulai diajarkan mengenai topik green building ini.

Dalam proses sertifikasi, ada enam elemen dalam biophilic design yang sebaiknya diaplikasikan dalam bangunan hijau. Unsur-unsur tersebut adalah elemen lingkungan (tanaman, material alami, air, udara, dll), bentuk (motif alam, biomorfologi, dll), natural patterns (proses pembangunan), serta ruang dan cahaya (permainan cahaya, bayangan). Lalu ada place-based relationship (unsur sejarah, geografis, lokalitas), dan hubungan antara manusia dengan alam itu sendiri.

Untuk Living Building Challenge – program sertifikasi bangunan berkelanjutan internasional, keenam aspek tersebut harus dipenuhi, meskipun hanya mengambil 2-3 poin dari masing-masing elemen. Sedangkan GREENSHIP dan BGH, penilaiannya masih berfokus di area lanskap. Namun, mereka pun mulai mengevaluasi bagaimana penggunaan vegetasi untuk perlindungan sinar matahari dan angin kencang, serta seberapa luas lanskap dalam perancangan tersebut. Yodi pun menambahkan bahwa sebenarnya biophilic design untuk green building lebih dari itu. Oleh karenanya, program sertifikasi di Indonesia pun akan terus berkembang dan lebih update. Bersamaan dengan itu pula, arsitek, desainer, dan kita semua juga perlu terus belajar, serta memahami green building. (uci)

 

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X