Arsitektur yang Tumbuh Bersama di TAS 63
Presented by Richo Wirawan from OTONOM, at ARCHINESIA “10X10=INFINITY” in The Westin Hotel Surabaya; Thursday, September 18, 2025

[English text below] TAS 63 bermula dari sebuah rumah developer tipikal di Surabaya yang telah berdiri selama satu dekade. Bangunan itu dulunya ramai, dihuni oleh keluarga besar lintas generasi, namun perlahan kehilangan fungsi seiring perubahan ritme hidup para penghuninya. Ketika OTONOM diminta melakukan renovasi, yang mereka temukan bukan sekadar rumah yang menua—melainkan ruang yang kehilangan arah. Dari titik inilah proyek ini bergerak, bukan sebagai proses membangun ulang, melainkan menata ulang kehidupan di dalamnya.


Alih-alih melakukan perombakan total, OTONOM memilih pendekatan yang sabar dan adaptif. Mereka membaca pola hidup penghuninya—yang kini lebih sedikit dan lebih tenang—seraya mempertahankan sebagian struktur lama yang masih memiliki makna. Prinsipnya bukan membuang, tetapi memulihkan. Bagian-bagian yang dulunya padat diurai menjadi lapisan ruang dengan ritme baru: area depan diberi lapisan privasi, teras dikurangi agar lebih fungsional, sementara kamar dan dapur direposisi untuk menghadirkan cahaya alami dan sirkulasi udara yang lebih baik.
Kepekaan terhadap tempo menjadi inti dari desain ini. OTONOM menyadari bahwa transformasi arsitektur rumah tinggal tidak selalu selesai dalam satu waktu. TAS 63 dibayangkan sebagai proyek yang terbuka, berkembang seiring kesiapan pemilik rumah untuk menerima perubahan. Dari konsep awal yang ideal, realisasi di lapangan baru mencapai sebagian—namun bagi sang arsitek, 30 atau 40 persen kemajuan pun sudah berarti. Desain di sini menjadi proses dialog: antara kebutuhan penghuni, kondisi eksisting, dan gagasan ruang yang lebih baik.

Dalam skala kecilnya, TAS 63 menawarkan refleksi tentang arsitektur yang tidak memaksakan diri. Ia berangkat dari empati dan kesadaran bahwa rumah adalah organisme hidup yang terus beradaptasi. OTONOM menempatkan dirinya bukan sebagai pembuat bentuk, melainkan pengatur keseimbangan antara fungsi, memori, dan waktu. Dengan pendekatan itu, TAS 63 menjadi studi kecil tentang bagaimana arsitektur dapat tumbuh bersama penghuninya—perlahan, jujur, dan manusiawi. (uci)
Architecture That Grows in TAS 63

TAS 63 began as a typical developer house in Surabaya that had stood for a decade. Once lively and filled with a multigenerational family, the house gradually lost its function as the occupants’ rhythms of life changed. When OTONOM was invited to renovate it, what they found was not merely an aging structure—but a space that had lost its sense of direction. From that point, the project unfolded not as an act of rebuilding, but as an attempt to reorganize life within it.



Instead of pursuing a total overhaul, OTONOM chose a patient and adaptive approach. They observed the new lifestyle patterns of the fewer, quieter occupants, while preserving portions of the existing structure that still held meaning. The principle was not to discard, but to restore. Formerly dense areas were reconfigured into spatial layers with a new rhythm: the front area was given more privacy, the terrace was reduced for functionality, and the bedrooms and kitchen were repositioned to bring in natural light and better airflow.
Sensitivity to tempo became the essence of the design. OTONOM recognized that the architectural transformation of a home does not always happen all at once. TAS 63 was envisioned as an open-ended project—evolving in step with the homeowners’ readiness for change. From the initial ideal concept, only part of it has materialized on site, yet for the architect, even 30 or 40 percent of progress holds significance. Here, design becomes a process of dialogue—between the occupants’ needs, the existing conditions, and the aspiration for better space.
In its small scale, TAS 63 offers a reflection on architecture that does not force itself. It begins with empathy and the awareness that a home is a living organism, constantly adapting. OTONOM positions itself not as a form-maker, but as a mediator of balance between function, memory, and time. Through this approach, TAS 63 becomes a modest study of how architecture can grow alongside its inhabitants—slowly, honestly, and humanely. (uci)





Leave a Reply
Be the First to Comment!