Rumah Rimbun – ARCHINESIA
Widget Image

Rumah Rimbun

Presented by Nando Rimaldi from Studio Nadi at ARCHINESIA “10×10=INFINITY” in Jakarta; Wednesday, August 12, 2026

[English text below] Rumah Rimbun berada di Cirebon, di sebuah tapak yang telah memiliki kehidupan jauh sebelum rumah direncanakan. Sebuah pohon besar telah tumbuh di dalam lahan, sementara di sekitarnya terdapat mushola, rumah keluarga, jalan kecil, kebun, serta berbagai aktivitas sosial yang telah berlangsung. Kondisi tersebut menjadi titik awal dalam proses perancangan, dengan membaca apa yang telah lebih dahulu hadir dan menjadikannya bagian dari pertimbangan desain.

Pohon eksisting menjadi salah satu elemen yang paling menentukan pembentukan massa Rumah Rimbun. Keberadaannya justru dipertahankan dan menjadi dasar bagi bangunan untuk berhenti dan bergeser mengikutinya. Jeda yang tercipta di antara massa kemudian berkembang menjadi koridor yang menghubungkan ruang-ruang di dalam rumah sekaligus mengarahkan pergerakan dari area utama menuju kamar anak. Di sekelilingnya, kebun ditempatkan untuk memanfaatkan lahan secara maksimal, sementara ruang-ruang utama seperti ruang keluarga, ruang makan, dapur, kamar utama, dan mushola disusun berdasarkan hubungan dengan kebun, pohon, akses, serta kehidupan keluarga.

Pendekatan tersebut juga membuat rumah tidak tampil sebagai objek yang terpisah dari lingkungannya. Bentuk bangunan disusun agar terasa menyatu dengan pohon, kebun, dan rumah-rumah yang telah lebih dahulu ada. Batas-batas masif yang berlebihan dihindari untuk menjaga hubungan antara ruang dalam dan lingkungan sekitar.

Keterbukaan tersebut berangkat dari karakter kehidupan di kampung halaman pasangan ini yang masih berlangsung melalui interaksi sederhana. Tetangga saling berkunjung, rumah menjadi tempat menerima orang lain, dan batas antara ruang privat dengan lingkungan tidak sepenuhnya kaku. Karakter tersebut kemudian diterjemahkan melalui berbagai ruang yang memungkinkan aktivitas berlangsung secara lebih informal.

Di bawah pohon eksisting, misalnya, sebuah meja ditempatkan sebagai ruang untuk duduk, berbincang, makan, atau sekadar menikmati waktu. Sementara itu, garasi tidak hanya berfungsi sebagai tempat kendaraan, tetapi juga dapat digunakan sebagai ruang menerima tamu. Kehadiran ruang-ruang semacam ini membuat aktivitas sehari-hari tidak selalu berlangsung di dalam ruang yang secara formal telah ditentukan.

Pada akhirnya, Rumah Rimbun bukan hanya sebuah rumah pensiun. Pohon yang telah lebih dahulu ada menjadi bagian dari kehidupan baru, sementara mushola dan rumah-rumah disekitarnya menjadi pengingat bahwa hubungan sosial telah terbentuk sebelum rumah hadir. Kebun, burung, meja, hingga ruang menerima tetangga kemudian menjadi bagian dari kehidupan setelah kepulangan. Rumah ini bukan tentang membangun sesuatu yang baru di sebuah lahan kosong, melainkan menemukan kembali kehidupan yang telah lama menunggu untuk dilanjutkan. (rvx)


 

Rumah Rimbun

Rumah Rimbun is located in Cirebon, on a site that had already been inhabited by life long before the house was conceived. A large tree had grown within the site, while around it stood a small prayer room, family houses, a narrow road, gardens, and various forms of social activity that had long taken place. These existing conditions became the starting point of the design process, through an attempt to read what was already there and make it part of the architectural consideration.

The existing tree became one of the most defining elements in shaping the massing of Rumah Rimbun. Rather than being removed, it was preserved and became the basis for the building to stop and shift in response to its presence. The gap created between the masses eventually developed into a corridor that connects the spaces within the house while directing movement from the main living area toward the children’s bedroom. Around it, gardens were introduced to make the most of the available land, while the main spaces—such as the family room, dining area, kitchen, master bedroom, and prayer room—were arranged according to their relationships with the garden, the tree, access, and the life of the family.

This approach also allows the house to avoid appearing as an isolated object within its surroundings. The building is shaped to feel integrated with the existing tree, gardens, and neighboring houses that were already part of the site. Excessively massive boundaries are avoided in order to maintain a connection between the interior spaces and the surrounding environment.

This openness is rooted in the character of life in the couple’s hometown, where everyday life continues to unfold through simple forms of interaction. Neighbors visit one another, the home becomes a place to welcome others, and the boundary between private space and the surrounding environment is not entirely rigid. This character is then translated into a series of spaces that allow everyday activities to take place in a more informal manner.

Beneath the existing tree, for instance, a table is placed as a space for sitting, talking, eating, or simply spending time. The garage, meanwhile, is not merely a place for vehicles, but can also serve as a space for receiving guests. The presence of such spaces allows everyday life to unfold beyond rooms that have been formally designated for specific functions.

Ultimately, Rumah Rimbun is more than a retirement home. The tree that existed long before the house became part of a new chapter of life, while the prayer room and neighboring houses serve as reminders that social relationships had already been established before the house arrived. The garden, birds, table, and spaces for welcoming neighbors gradually become part of the life that follows the family’s return. This house is not about building something new on an empty piece of land, but about rediscovering a life that had long been waiting to continue.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X