Pameran “Transoceanic Disclose: Weaving Architectural [Her]stories,” Menyingkap Kiprah Arsitek Perempuan di Indonesia
Sejarah arsitektur selama ini didominasi oleh karya-karya arsitek laki-laki, kontribusi mereka lebih sering diakui dan diabadikan dalam berbagai pencapaian arsitektural. Sementara itu, sumbangsih arsitek perempuan seringkali atau bahkan tidak terdokumentasi dengan baik, padahal mereka juga memiliki peran yang signifikan terhadap arsitektur maupun tata kota sebuah wilayah. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah inisiasi di dunia melalui pameran, forum daring, dan publikasi pun berusaha untuk mengungkapkan “keberadaan” perempuan dalam dunia arsitektur. Di antaranya adalah Pameran “First Architekt” di Frankfurt (2017) dan buku Women in Architecture yang diterbitkan pada tahun 2023. Di Indonesia, komunitas bagi perempuan arsitek dan desainer di Indonesia juga mulai muncul pada tahun 2018, yaitu Ibu Arsitek dan Perempuan Berarsitektur.
Pada tahun 2022, Erika Yuni Astuti – akademisi di Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), Institut Teknologi Bandung (ITB) – memprakarsai penelitian mengenai sejarah arsitek perempuan di Indonesia. Berkolaborasi dengan arsitek feminis dan peneliti sejarah dari Belanda, yaitu Maria Novas dan Rachel Lee, penelitian ini juga didukung oleh Bandoengse Technische Hoogeschool Fonds (BTHF Research Grant).

Pencarian jejak arsitek perempuan ini dilakukan melalui arsip, jurnal, majalah di Indonesia dan Belanda. Temuan awal mengungkapkan sejumlah besar materi yang berkaitan dengan generasi awal arsitek perempuan Indonesia. Hal ini memungkinkan identifikasi generasi pertama dari 30 perempuan yang dapat belajar di ITB (sebagai sekolah arsitektur di Indonesia yang diakui negara) antara tahun 1950 dan 1962. Dalam prosesnya, Erika dan tim juga berkesempatan untuk bertemu langsung dengan para arsitek perempuan yang berperan dalam dunia arsitektur, baik pendidikan maupun kebijakan pembangunan di Indonesia. Erika mengungkapkan bahwa percakapan dan pertemuan tersebut menjadi “bumbu pelengkap” dalam proses riset yang dilakukan. Para narasumber dibebaskan untuk berbagi mengenai perjalanan, pencapaian, serta tantangan yang dihadapi saat itu dari perspektif masing-masing.

Hasil penelitian tersebut kemudian ditampilkan melalui pameran bertajuk “Transoceanic Disclose: Weaving Architectural [Her]stories” dan dilaksanakan secara perdana di Campus Center (CC) Timur, ITB Kampus Ganesha. Ekshibisi ini mengangkat kisah 12 perempuan Indonesia yang memulai pendidikan tingginya di jurusan arsitektur ITB. Mereka lulus pada tiga dekade pertama setelah Indonesia merdeka (1945). Kedua belas arsitek perempuan tersebut adalah Doddy Zartini Zaha (almh.), Kadarwati Sutomo, Roendarijah Soeparto, Siti Utamini, Susantiah M. Ardhi, Wahyuningsih Herbowo, Budhy Tjahati (almh.), Tuti Purwani Dipokusumo, Aristiana, Harastoeti Dibyo Harsono (almh.), Irmawati, dan Sri Rahaju.


Tiap arsitek dihadirkan melalui profil rinci tentang kehidupan yang berfokus pada pendidikan dan karier, kontribusi, serta karya-karya mereka dalam perencanaan dan pembangunan pasca kemerdekaan. Tidak ketinggalan pula pencapaian profesional mereka, baik di perusahaan swasta maupun lembaga publik, mulai dari desain arsitektur, hingga pengajaran. Bagi Erika, salah satu konten yang tidak disangka menjadi daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa arsitektur yang berkunjung adalah kutipan-kutipan pesan dari para arsitek perempuan ini.


Selain menyoroti kontribusi kedua belas arsitek perempuan ini, ekshibisi yang dilaksanakan pada 22 Agustus – 6 September 2024 juga menghadirkan sebuah timeline dengan konteks yang lebih luas. Tidak hanya perempuan dalam bidang arsitektur di Indonesia, tetapi juga gambaran secara perspektif internasional.

Pameran ini pun mendapatkan sambutan dan apresiasi dari mahasiswa arsitektur, arsitek muda, hingga masyarakat umum. Sebagian besar dari mereka menuliskan kesan dan pesan di sudut yang telah disiapkan.


Dalam wawancara tim ARCHINESIA dengan Erika, ia mengungkapkan juga bahwa anak hingga cucu dari para narasumber yang hadir pun sampai meneteskan airmata dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada tim pameran.

Bagi Erika dan tim, penelitian ini masih menjadi langkah awal dan akan terus dilanjutkan. Kabar baiknya, pameran ini akan dibawa ke Jogja National Museum (JNM) Bloc, Yogyakarta, dan akan ditampilkan pada bulan Oktober mendatang.
Lebih dari sekadar membuka pengetahuan dan menginspirasi bagi mahasiswa arsitektur maupun arsitek-arsitek muda di Indonesia, pameran ini menunjukkan bahwa arsitek-arsitek perempuan telah menjadi bagian penting dalam arsitektur, baik pendidikan maupun kebijakan pembangunan di Indonesia. (uci)
Leave a Reply
Be the First to Comment!