Menuju Kota Vertikal: Inovasi dan Keberlanjutan dalam Pembangunan Jakarta
Session by Archica Danisworo (PDW), Colin Ward (Foster + Partners), Aditya Kohari (Asia Pacific 3A Composites), Robert Whitlock (Kohn Pedersen Fox), Giovanni Vigano (Whitby Wood Mills), and moderated by Woerjantari K. Sudarsono at CTBUH 2025 Indonesia Conference, July 10th, 2025
[English text below] Jakarta merupakan salah satu dari sepuluh kota di Asia yang memiliki banyak gedung dengan ketinggian lebih dari 200 meter. Fenomena ini menjadi salah satu indikator kemajuan sebuah kota. Seiring dengan itu, muncul pula kebutuhan akan inovasi baru untuk mengatasi berbagai tantangan yang turut hadir. Oleh karena itu, pemerintah berkolaborasi dengan pihak swasta untuk mendorong keberlanjutan dan inovasi dalam perancangan gedung-gedung tinggi—yang tidak hanya berfungsi sebagai hunian vertikal, tetapi juga berkembang menjadi kota vertikal (vertical city).
Berbicara mengenai vertical city, Jakarta telah memiliki kawasan superblok Thamrin Nine yang saat ini sudah terbangun. Kawasan ini menjadi bukti bahwa Indonesia mampu mewujudkan konsep kota vertikal. Salah satu menara di dalamnya—Autograph Tower—yang baru saja diresmikan sepekan lalu, menjadi contoh nyata dari penerapan konsep ini. Dengan membagi fungsi bangunan ke dalam delapan area utama—kantor, hotel, apartemen servis, olahraga, pendidikan, ritel, fasilitas publik, dan hiburan—bangunan tinggi ini membuka peluang terwujudnya kehidupan urban yang terintegrasi secara vertikal. Selain itu, keterhubungan kawasan dengan moda transportasi publik menjadikan Thamrin Nine sebagai salah satu kawasan yang menerapkan konsep transit-oriented development (TOD).
Aspek penting lainnya adalah bagaimana peran arsitek dalam merancang bangunan tinggi dengan bantuan Building Information Modeling (BIM). Penggunaan BIM sangat mendukung proses kalkulasi karbon, yang penting untuk mengukur performa desain secara lebih akurat. Dengan demikian, pada tahap implementasi, pembangunan gedung tinggi dapat mengurangi emisi karbon hingga belasan ribu ton di setiap fasenya. Untuk benar-benar melihat dampak dari pengurangan emisi ini, implementasinya perlu dilakukan dalam skala kota, atau bahkan lebih besar, agar manfaatnya dapat dirasakan secara signifikan.
Pada akhirnya, pertumbuhan dan perkembangan sebuah kota harus dilakukan tanpa merusak lingkungan, sembari tetap mampu memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi penduduknya. Inovasi dalam konteks perkotaan juga menjadi elemen penting, baik melalui pemanfaatan teknologi, kebijakan baru, maupun pendekatan desain yang kreatif untuk menjawab tantangan kota. Dalam menghasilkan inovasi yang berdampak, data menjadi aspek krusial guna melihat hasil secara objektif. (flw)

Toward a Vertical City: Innovation and Sustainability in Jakarta’s Urban Development
Jakarta is one of the top ten cities in Asia with the highest number of buildings exceeding 200 meters in height. This vertical growth is an indicator of a city’s advancement. However, such rapid development brings new challenges that require innovative solutions. To address this, the government has partnered with private sectors to push for greater sustainability and innovation in high-rise design—transforming these structures from merely vertical dwellings into integrated vertical cities.
In discussing vertical cities, Jakarta has already taken a significant step with the development of the Thamrin Nine superblock. This area stands as proof that Indonesia is capable of realizing a vertical urban concept. One of its towers—the recently inaugurated Autograph Tower—is a prime example. By integrating eight main functions—office, hotel, serviced apartments, sports, education, retail, public amenities, and entertainment—this high-rise building demonstrates the potential of vertical cities. Moreover, the tower’s connection to public transportation systems reinforces Thamrin Nine’s role as a transit-oriented development (TOD) zone.
Another crucial aspect lies in how architects use Building Information Modeling (BIM) in the design process. BIM plays a key role in carbon calculation, helping to evaluate a building’s performance more accurately. As a result, each phase of construction can significantly reduce carbon emissions—by thousands of tons. To fully realize the impact of such reductions, implementation needs to occur at a city scale—or larger—so that the benefits become tangible and widespread.
Ultimately, a city must grow and evolve without harming the environment, while also meeting the social and economic needs of its people. Urban innovation—whether through technology, policy-making, or creative design approaches—is essential in addressing today’s complex urban challenges. And to ensure meaningful impact, data must be at the core, offering objective insights into the outcomes of these innovations.
Leave a Reply
Be the First to Comment!