Lumiere House

[English text below, provided by the architect] Salah satu permasalahan umum di kota besar seperti Bandung adalah keterbatasan lahan, terutama di pusat kota. Lahan yang sempit dan kebutuhan ruang yang cukup luas menjadi tantangan utama dalam merancang rumah ini. Untuk menjawab tantangan tersebut, konsep split-level diterapkan agar Lumiere House ini dapat mengakomodasi kebutuhan pemiliknya dengan lebih efisien. Tujuan utama dari proyek ini adalah menciptakan hunian yang unik bagi sang pemilik, yang memiliki minat besar terhadap berkebun dan teknologi modern. Oleh karena itu, setiap lantai rumah ini dilengkapi dengan taman.

Taman menjadi elemen penting dalam proyek ini, dengan lima taman berbeda yang tersebar di berbagai area rumah. Selain memberikan nilai estetika, keberadaan taman-taman ini juga membantu meningkatkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami di dalam rumah. Taman utama berada di tengah bangunan dan berfungsi sebagai inner court. Area ini dirancang sebagai void vertikal yang menghubungkan seluruh lantai rumah secara visual dan fungsional. Di area ini juga terdapat vertical garden yang menambah suplai udara segar ke dalam rumah.
Taman juga dimanfaatkan sebagai elemen atap dan fasad rumah. Taman atap ini memberikan berbagai manfaat, seperti ruang tambahan untuk pertanian urban, mempercantik tampilan kota, serta meningkatkan kualitas udara. Selain itu, taman atap juga membantu mengurangi efek pulau panas perkotaan karena dapat menyerap panas dan memberikan insulasi yang lebih baik dibandingkan atap konvensional.

Sementara itu, taman pada fasad rumah berfungsi sebagai peredam suara, mengurangi kebisingan dari luar yang masuk ke dalam rumah. Konsep fasad hijau ini dikombinasikan dengan penggunaan sirip pelindung matahari yang dapat berputar mengikuti arah sinar matahari, menciptakan bayangan dengan pola menarik di dalam rumah.
Taman lainnya berada di area pintu masuk dan menyatu dengan kolam ikan. Uniknya, kolam ini tidak berada di lantai dasar, melainkan di lantai dua. Bagian dasar kolam menggunakan material kaca, sehingga menciptakan bayangan reflektif yang menarik di ruangan di bawahnya. Kehadiran taman-taman di berbagai area rumah ini menghadirkan suasana yang menyegarkan dan memberikan pengalaman ruang yang tidak biasa.

Lumiere House

[Text provided by the architect] One of the common problems in big cities—such as Bandung, Indonesia—is the limitation of land and space in the city center. Limited land and extensive spatial requirements present significant challenges in designing this house. To address these needs, a split-level concept was applied, allowing the Lumiere House to accommodate the owner’s lifestyle more effectively. The primary goal of this project was to create a unique residence for the owner, who has a deep passion for gardening and modern technology. As a result, each level of the house features a dedicated garden.

Gardens play a crucial role in this project, with five distinct gardens integrated throughout various areas of the house. Beyond their aesthetic value, these gardens enhance air circulation and natural lighting within the interior. The main garden is centrally located and serves as an inner courtyard. This space functions as a vertical void that visually and physically connects all levels of the house. Additionally, a vertical garden is installed here, contributing extra fresh air and reinforcing the biophilic atmosphere.
Gardens are also utilized on the roof and facade of the house. The rooftop garden provides multiple benefits, including additional space for urban farming, improved cityscape aesthetics, and enhanced air quality. It also helps to reduce the urban heat island effect by absorbing heat and offering better insulation than conventional roofing.

Meanwhile, the garden on the facade acts as a buffer against external noise, helping to minimize sound infiltration into the house. This green facade is combined with sun-shading fins that rotate according to the sun’s orientation, casting patterned shadows inside and contributing to the home’s dynamic spatial experience.
Another notable garden is located at the entrance, integrated with a fish pond. Interestingly, the pond is not on the ground floor but on the second floor of the house. It features a glass base, which creates captivating shadow reflections in the room below. The thoughtful incorporation of gardens across different parts of the house results in a refreshing atmosphere and a living experience that feels truly one-of-a-kind.
Architecture Firm: Studio Avana
Design Principal(s): Martin Pradipta, Ramos Saedi, Rayner Tulus
Name of Project: Lumiere House
Location: Bandung, Indonesia
Design Period: 2019
Site Area: 356 sqm.
Photographer: KIE Arch
PRODUCT SOURCES
Flooring: Venus Tiles
Sanitary: Hansgrohe, Toto







Leave a Reply
Be the First to Comment!