Merancang dari Ketidaksempurnaan: Semangat Adaptif Radjamie
Presented by Rendy Hendrawan from Supratman Arsitektura, at ARCHINESIA “10X10=INFINITY” in The Westin Hotel Surabaya; Thursday, September 18, 2025

[English text below] Radjamie hadir sebagai hasil pergeseran arah desain yang lahir di tengah pandemi. Supratman Arsitektura mengubah bekas bangunan apotek di Surabaya menjadi restoran mi yang penuh karakter. Dari luar, bangunan ini tampak brutal dan monolitik—massa beton dengan warna monokrom yang tegas. Namun begitu melangkah ke dalam, suasana berubah total: interiornya hangat, tropis, dan kontras dengan eksteriornya yang dingin.


Pendekatan desain Radjamie berpijak pada eksplorasi visual yang berani namun sadar konteks. Permintaan klien untuk menghadirkan kesan “norak” diterjemahkan arsitek bukan sebagai sesuatu yang berlebihan, melainkan sebagai permainan warna dan material yang lugas. Warna kuning dipilih sebagai aksen utama, menciptakan daya tarik visual yang kuat di antara bangunan sekitarnya yang netral. Interiornya menggabungkan elemen teraso, terakota, dan kayu, membangun keseimbangan antara kesederhanaan material dan kekayaan tekstur.

Dengan keterbatasan anggaran, strategi desain diarahkan pada efisiensi dan improvisasi. Material lama digunakan kembali, sementara elemen baru ditambahkan secara selektif untuk menciptakan lapisan visual yang segar. Tangga spiral dari besi menjadi titik fokus ruang—detail yang fungsional sekaligus ekspresif—membentuk narasi vertikal di tengah ruang makan yang terbuka.
Radjamie bukan sekadar proyek F&B, melainkan eksperimen tentang bagaimana arsitektur dapat bersikap jujur terhadap kondisi riil pembangunan. Ia menunjukkan bahwa desain tak selalu harus sempurna untuk menjadi signifikan. Justru dalam ketidakteraturan dan kompromi itulah muncul kehangatan, kejujuran, dan identitas visual yang khas—mewakili semangat adaptif arsitektur urban kontemporer di Surabaya. (uci)
Designing from Imperfection: The Adaptive Spirit of Radjamie

Radjamie emerged as a result of a design direction shift born during the pandemic. Supratman Arsitektura transformed a former pharmacy building in Surabaya into a noodle restaurant rich with character. From the outside, the building appears brutal and monolithic—a concrete mass in bold monochrome tones. Yet upon entering, the atmosphere transforms completely: the interior feels warm, tropical, and in striking contrast to its cold exterior.


Radjamie’s design approach is rooted in bold visual exploration with a keen sense of context. The client’s request for a “gaudy” impression was not interpreted as excess, but rather as a straightforward play of color and material. Yellow was chosen as the primary accent, creating a strong visual presence among the otherwise neutral surroundings. The interior combines terrazzo, terracotta, and wood, balancing material simplicity with textural richness.

With a limited budget, the design strategy focused on efficiency and improvisation. Existing materials were reused, while new elements were selectively added to create a fresh visual layering. A spiral iron staircase becomes the focal point of the space—a detail that is both functional and expressive—forming a vertical narrative at the heart of the open dining area.
Radjamie is more than just an F&B project; it is an experiment in how architecture can respond honestly to the realities of construction. It demonstrates that design need not be perfect to be meaningful. In its irregularities and compromises, one finds warmth, honesty, and a distinct visual identity—embodying the adaptive spirit of contemporary urban architecture in Surabaya. (uci)





Leave a Reply
Be the First to Comment!