Jakarta, Kota Pertama di Indonesia yang Memulai Pembangunan untuk Masa Depan yang Tangguh – ARCHINESIA
Widget Image
 

Jakarta, Kota Pertama di Indonesia yang Memulai Pembangunan untuk Masa Depan yang Tangguh

Jakarta, Kota Pertama di Indonesia yang Memulai Pembangunan untuk Masa Depan yang Tangguh

Session by Iwan Kurniawan (Development and Environmental Jakarta Provincial Government), Michael Wiener (Thamrin Nine), Alvin Gozali (Thamrin Nine), Frans Surjadi (Astra Land Indonesia), Wendy Haryanto (Jakarta Property Institute), Larry Chien (Skidmore Owings & Merrill), and moderated by Erlangga Baskara at CTBUH 2025 Indonesia Conference, July 10th, 2025

[English text below] Setiap negara tentunya memiliki kota-kota yang ingin terus berkembang dan semakin maju. Oleh karena itu, ketangguhan kota atau urban resilience perlu menjadi perhatian. Urban resilience merupakan kemampuan suatu kota untuk menghadapi, menyesuaikan diri, dan pulih dari berbagai gangguan atau tekanan, tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat tinggal, bekerja, dan berkegiatan. 

Untuk membangun lingkungan yang tangguh (resilient environment), diperlukan pemahaman yang kuat terhadap konteks serta isu-isu yang tengah berlangsung. Dalam konteks perkotaan, penting untuk membangun ekosistem yang mendukung urban resilience. Salah satu aspek mendasarnya adalah keberadaan bangunan-bangunan di dalam kota. Bangunan tidak hanya harus dirancang dengan baik, tetapi juga mampu berevolusi untuk masa depan dan berkelanjutan (sustainable).

Salah satu contohnya adalah Kota Jakarta, yang saat ini mengalami perkembangan teknologi tercepat di Indonesia. Jakarta tengah berupaya membenahi isu-isu utama—seperti perumahan sub-standar, perumahan layak, ruang terbuka hijau, dan sistem air bersih—yang selama ini menjadi penghambat dalam pengembangan urban resilience. Inisiatif serta pembentukan kebijakan oleh pemerintah sangat dibutuhkan agar kota ini dapat memiliki hunian vertikal yang inklusif dan berkelanjutan sebagai salah satu solusi atas isu-isu tersebut.

Untuk mewujudkan hal tersebut, kolaborasi antara pemerintah, pengembang (developer), komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan. Masa depan kota yang tangguh dapat dicapai melalui pembangunan mixed-use buildings, transit-oriented development (TOD), dan community-centered development, yang mampu meningkatkan aksesibilitas sekaligus meminimalkan emisi. Pengembang sebagai motor transformasi kota juga memiliki peran penting dalam membentuk masa depan kota yang berorientasi pada pengguna. Dengan demikian, fokus pembangunan tidak hanya sebatas pada desain “skyline” kota, tetapi juga pada pengalaman pengguna di masa depan.

Pembangunan menuju urban resilience di masa depan harus didasari oleh tujuan yang jelas. Lebih dari sekadar merancang gedung-gedung tinggi yang memanjakan visual, pembangunan harus mampu membawa perubahan bagi kota itu sendiri. Dengan demikian, Jakarta sebagai kota terbesar di Asia Tenggara perlu diorientasikan kembali menjadi kota yang mengutamakan masyarakatnya—people first. (flw)

 


 

Jakarta, the First City in Indonesia to Begin Development for a Resilient Future

Every country has cities that strive to grow and progress continuously. In this pursuit, urban resilience becomes a crucial consideration. Urban resilience refers to a city’s ability to withstand, adapt to, and recover from various disruptions or pressures without losing its core functions as a place to live, work, and carry out daily activities.

Building a resilient environment requires a deep understanding of the surrounding context and current urban challenges. In an urban setting, it is essential to establish an ecosystem that supports urban resilience. One of the most fundamental aspects is how buildings within the city are designed. These buildings should not only be well-planned but also capable of evolving with time and embracing sustainability.

Jakarta serves as an example—a city currently experiencing one of the fastest rates of technological development in Indonesia. Jakarta is actively addressing several key issues—such as substandard housing, access to decent housing, green open spaces, and clean water systems—which have been major barriers to fostering urban resilience. Government initiatives and policy-making play an important role in tackling these challenges, particularly through the development of inclusive and sustainable vertical housing.

Realizing this vision requires strong collaboration among the government, developers, communities, and all relevant stakeholders. The future of a resilient city can be achieved through mixed-use buildings, transit-oriented development (TOD), and community-centered approaches that improve accessibility while reducing emissions. Developers, as agents of urban transformation, also play a vital role in shaping user-centered cities. The focus should go beyond designing a city’s skyline to creating meaningful user experiences for the future.

Urban resilience must be pursued with a clear purpose—not merely to build visually striking skyscrapers, but to create buildings that truly transform the city. Jakarta, as the largest metropolis in Southeast Asia, must be reoriented to become a people-first city—where the needs of its citizens take precedence.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X