(TO)GATHER: Menelusuri Proses di Balik Kubah Bambu G20

Museum Arsitektur Indonesia berkolaborasi dengan studio arsitektur BIROE mempersembahkan “(TO)GATHER: The Craft and Cradle of the G20 Bamboo Dome (Cipta dan Kriya Kubah Bambu G20)”. Pameran ini berlangsung pada 15 Oktober hingga 14 Desember 2026 di Galeri Museum Arsitektur Indonesia, Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), Bintaro Jaya. Pengunjung diajak menelusuri proses di balik perancangan dan pembangunan kubah bambu berdiameter 32 meter yang dirancang untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Bali 2022. Proses tersebut ditampilkan melalui maket arsitektur, gambar teknis, sampel material, serta dokumentasi konstruksi.

Proyek kubah bambu G20 mempertemukan tiga peran utama dengan keahlian yang berbeda. Rubi Roesli dari BIROE bertanggung jawab atas gagasan dan perancangan arsitektur. Ashar Saputra dari Universitas Gadjah Mada (UGM) terlibat dalam pengembangan rekayasa struktur, sementara Gusti Ngurah Raka Martawan menghadirkan pengalaman praktis sebagai pengrajin artisan bambu.

Tersusun dari 2.700 bilah bambu, G20 Bamboo Dome memperlihatkan bahwa merancang dengan bambu membutuhkan pendekatan yang berbeda dari penggunaan material industri seperti beton. Desain tidak dapat sepenuhnya bertumpu pada asumsi konstruksi konvensional, tetapi perlu berangkat dari karakter material dan perilaku struktur. Selain itu, proses perancangan juga perlu mempertimbangkan kemungkinan pengerjaan yang dimiliki oleh para pengrajin.
Kehadiran kubah bambu G20 tidak dapat dilepaskan dari konteks penyelenggaraan KTT G20 di Bali pada 2022. Di tengah momentum tersebut, arsitektur menjadi salah satu medium untuk memperkenalkan potensi Indonesia melalui pendekatan yang berakar pada material dan pengetahuan lokal. Penggunaan bambu sebagai material utama juga memunculkan ketertarikan tersendiri. Hal ini terutama karena bambu, yang lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, diolah menjadi struktur berskala besar dengan kebutuhan teknis yang kompleks.

Judul (TO)GATHER merangkum dua gagasan yang berarti berkumpul dan bersama. Makna pertama merujuk pada fungsi kubah sebagai ruang untuk mempertemukan para pemimpin dunia, sedangkan makna kedua merefleksikan proses kolaboratif di balik pembangunannya. Gagasan pameran ini berangkat dari keinginan untuk mengungkap kerja kolektif yang sering kali tidak terlihat ketika sebuah bangunan telah selesai.
Pada akhirnya, nilai kubah bambu G20 tidak hanya terletak pada skala atau bentuknya, tetapi juga pada pengetahuan yang dihimpun selama proses pembangunannya. Melalui pertemuan antara arsitek, ahli struktur, dan pengrajin, (TO)GATHER memperlihatkan bahwa masa depan arsitektur berbasis material lokal dapat tumbuh dari kemampuan untuk bekerja bersama dan saling belajar. Proses tersebut juga membuka peluang untuk mengolah pengetahuan yang telah ada menjadi kemungkinan baru. (rvx)

Leave a Reply
Be the First to Comment!