Seiryuu Pavillion

[English text below] Di kawasan utara Bandung yang padat, Seiryuu Pavilion hadir sebagai respons arsitektural terhadap kebutuhan sebuah peternakan koi impor Jepang yang tengah berkembang. Kantor sebelumnya, yang berada di samping lokasi baru, tidak lagi mampu menampung kunjungan peternak dari Jepang maupun pelanggan lokal. Pavilion ini kemudian merumuskan ulang pengalaman tersebut dengan menjadikan aktivitas mengamati koi sebagai titik berangkat sekaligus narasi yang membentuk keseluruhan pendekatan desain.


Program bangunan disusun vertikal dengan pembacaan ruang yang jernih. Lantai dasar difungsikan sebagai area utama untuk pelanggan, dengan tempat duduk yang diarahkan langsung ke dua kolam indukan koi. Kedekatan ini memastikan proses melihat dan memilih ikan berlangsung tanpa hambatan, memungkinkan pengunjung merasakan hubungan langsung dengan permukaan air dan gerak koi. Sementara itu, lantai atas menampung ruang administrasi dan lounge untuk melihat katalog serta rekam jejak peternakan sebelum transaksi dilakukan. Pemisahan ini menciptakan alur yang runtut: mengamati koi, memahami sejarah dan pencapaian farm, lalu mengambil keputusan dalam suasana yang lebih tenang.
Secara arsitektural, gestur paling khas dari Seiryuu Pavilion adalah volume lantai atas yang menggantung. Massa bangunan menjorok hingga sembilan meter dan hanya disangga oleh satu baris kolom, menghadirkan kesan mengapung di atas kolam. Pendekatan ini membebaskan bidang tanah dari elemen struktural yang dominan, sekaligus menampilkan presisi—sebuah kualitas yang selaras dengan identitas Jepang dari peternakan ini. Bagian bawah kantilever dibiarkan bersih sehingga fokus tetap pada permukaan air dan pergerakan ikan. Cahaya alami memperkaya pengalaman ruang: skylight di atas tangga membawa cahaya ke dalam bangunan, sementara gemericik air dari kolam tetap terdengar hingga ke lantai atas, menjaga koneksi inderawi antarlevel.


Setiba di lantai atas, elemen pertama yang menarik perhatian adalah jendela bundar berporos putar. Selain memasukkan cahaya, bentuknya menjadi titik fokus yang memperhalus geometri ruang yang didominasi garis-garis lurus. Material kayu, proporsi yang tertata, dan elemen linear membangun suasana hangat dan terstruktur—menguatkan pavilion sebagai ruang untuk mempertimbangkan pilihan, bukan sekadar tempat transaksi berlangsung.
Fasad pavilion mengambil pendekatan yang lebih dinamis melalui penggunaan hollow steel persegi panjang yang menyelimuti seluruh sisi bangunan. Setiap panel dapat dibuka secara individual, memungkinkan penghuni mengatur ventilasi, intensitas cahaya, dan arah pandangan sesuai kebutuhan. Hasilnya adalah fasad yang responsif terhadap penggunanya tanpa kehilangan keteraturan visual. Ritme garis-garis halus pada fasad ini mengingatkan pada layering shoji Jepang, namun diterjemahkan ke dalam konteks urban Bandung tanpa kesan meniru.
Pada akhirnya, Seiryuu Pavilion menawarkan lebih dari sekadar ruang kerja baru bagi peternakan koi. Di tengah lingkungan yang padat, pavilion ini menghadirkan jeda—sebuah ruang jernih di mana mengamati koi menjadi bagian dari rangkaian pengalaman ruang yang disusun dengan penuh pertimbangan desain.
Seiryuu Pavillion

In the dense northern neighborhoods of Bandung, Seiryuu Pavilion emerges as a measured architectural response to the evolving needs of a Japan-imported koi breeding farm. The previous office, positioned next to the new site, had grown inadequate for accommodating visiting farmers from Japan and local customers. The new pavilion repositions the experience by framing the act of observing koi—both as a spatial anchor and as a narrative that informs the entire architectural arrangement.
The program is organized vertically with clarity. The lower level functions as the primary customer area, where seating is aligned directly with two koi breeding ponds. This proximity ensures that the viewing and selection process feels immediate and unobstructed, allowing visitors to engage with the fish at eye level. Meanwhile, the upper level houses the administrative office and a lounge area where clients can browse catalogs and review the farm’s achievements before proceeding with transactions. This separation produces a steady flow: from observing the koi, to understanding the farm’s lineage to finalizing decisions in a quieter setting.

Architecturally, Seiryuu Pavilion’s most distinct gesture is its suspended upper volume. Cantilevering nine meters and supported by only a single row of columns, the structure introduces a sense of levitation above the ponds. This approach frees the ground plane visually while emphasizing precision—an attribute that aligns subtly with the farm’s Japanese identity. The soffit remains uncluttered, leaving the focus on the water surface and the movement of the fish below. Natural light further shapes the spatial experience: a skylight above the staircase brings daylight deep into the building, while the faint sound of flowing water travels upward, maintaining a sensory connection between both levels.


Arriving on the upper floor, the first visual element that captures attention is a circular pivot window. Beyond providing natural light, it acts as a quiet focal point that introduces a softer geometry amidst the otherwise linear interior language. Timber surfaces, measured proportions, and linear detailing contribute to a warm and organized atmosphere, reinforcing the pavilion as a space for calm decision-making rather than transactional urgency.

The façade adopts a more dynamic approach through the use of rectangular hollow steel arranged across the entire surface. Each segment is operable, allowing occupants to modulate airflow, lighting, and views according to time and activity. This creates a façade that responds to its users while maintaining a cohesive architectural rhythm. The fine steel lines echo the layering of Japanese screens without resorting to direct imitation, instead translating the essence of precision and lightness into an urban Bandung context.
Seiryuu Pavilion ultimately offers more than a functional workspace for the koi farm. In a compact and active neighborhood, the pavilion introduces a moment of clarity—where observing koi becomes part of a spatial sequence thoughtfully supported by design.
Architecture Firm: Studio Avana
Design Principal(s): Martin Pradipta, Ramos Saedi, Rayner Tulus
Name of Project: Seiryuu Pavilion
Location: Bandung, Indonesia
Design Period: 2019
Site Area: 114 sqm.
Photographer: Ernest Theofilus




Leave a Reply
Be the First to Comment!