Reimagining Space: Menghidupkan Makna Baru pada Keterbatasan Ruang Kota
[English text below] Space seringkali dimaknai sebagai ruang kosong yang belum memiliki arti. Dalam upaya menghidupkan ruang kosong tersebut, dilakukan pembaruan ruang–reimagining space–untuk menjadikannya lebih bermakna. Begitu pula dalam konteks perkotaan. Pembaruan sudut kota juga diperlukan agar menjadi lebih hidup, fungsional, dan inklusif.
Sejalan dengan gagasan tersebut, Adi Purnomo (prinsipal mamostudio, Indonesia) menerjemahkan pembaruan kota melalui pendekatan ekologis yang menanggapi berkurangnya ruang hijau dan krisis air di Jakarta. Ia memandang studio arsitektur sebagai “single cell” dalam tubuh kota—unit kecil yang menjaga keseimbangan ekosistem urban. Melalui green roof, vertical garden, dan gagasan megarsari, ia mengembalikan pertanian ke tengah kota dengan memanfaatkan atap bangunan sebagai lahan produktif. Sementara itu, konsep sponge city menjadikan arsitektur sebagai mesin pemanen air hujan. Bagi Mamo, pembaruan ruang berarti memulihkan kembali hubungan ekologis antara kota dan lingkungannya.

Dalam semangat yang serupa, Vinu Daniel (prinsipal Wallmakers, India) mengusung pembaruan kota melalui eksplorasi material dan konstruksi berkelanjutan. Berangkat dari isu limbah di lingkungannya, ia mengolah waste materials dan mud brick menjadi bahan bangunan rendah emisi. Proses konstruksinya yang kolaboratif melahirkan inovasi dalam teknik dan bentuk, seperti pada rumah seorang musisi di mana atap kosong diubah menjadi ruang konser terbuka. Bagi Vinu, reimagining space berarti melihat potensi baru dalam keterbatasan dan menjadikannya solusi bagi kota yang berkelanjutan.
Melalui karya kedua studio tersebut menunjukkan bahwa pembaruan kota bukan tentang menambah, melainkan menyeimbangkan kehidupan di dalamnya. Dari ruang kecil dan keterbatasan, mereka menyalakan kembali harapan akan kota yang hidup, inklusif, dan berkelanjutan. (afm)

Reimagining Space: Breathing New Meaning into the Constraints of Urban Life
Space is often perceived as an empty void—something yet to hold meaning. To bring life into that emptiness, a process of renewal takes place—reimagining space—to transform it into something more purposeful. The same idea applies to the urban context, where revitalizing forgotten corners of the city is essential to make them more vibrant, functional, and inclusive.
In line with this idea, Adi Purnomo (principal of mamostudio, Indonesia) interprets urban renewal through an ecological approach, responding to the decline of green spaces and the water crisis in Jakarta. He views an architecture studio as a “single cell” within the city’s body—a small yet vital unit that maintains the balance of the urban ecosystem. Through green roofs, vertical gardens, and his megarsari concept, he reintroduces agriculture into the city by transforming rooftops into productive land. Meanwhile, the sponge city concept turns architecture into a rainwater-harvesting machine. For Mamo, renewing space means restoring the ecological relationship between the city and its environment.
With a similar spirit, Vinu Daniel (principal of Wallmakers, India) advances urban renewal through material innovation and sustainable construction. Starting from the issue of waste in his surroundings, he transforms discarded materials and mud bricks into low-emission building components. His collaborative construction process fosters new techniques and forms—exemplified by a musician’s house where an unused roof becomes an open-air concert space. For Vinu, reimagining space is about uncovering new potential within constraints and turning it into sustainable urban solutions.
Through the works of these two firms, we see that renewing the city is not about adding more, but about restoring balance within it. From small spaces and limitations, they rekindle hope for a city that breathes—vibrant, inclusive, and sustainable.
Leave a Reply
Be the First to Comment!