Jakarta dalam Pusaran Perubahan: Regenerasi, Ketahanan, dan Kolaborasi – ARCHINESIA
Widget Image
 

Jakarta dalam Pusaran Perubahan: Regenerasi, Ketahanan, dan Kolaborasi

Jakarta dalam Pusaran Perubahan: Regenerasi, Ketahanan, dan Kolaborasi

Session by Tona Hutauruk (Jakarta Investment Center DPMTSP Jakarta), Yahya Jan (Group Consultants International), Melissa Luki (Economic & Property CISTRI), Dessen Hillman (Mitsubishi Estate Asia), and moderated by Vivin Harsanto at CTBUH 2025 Indonesia Conference, July 10th, 2025

[English text below] Asia Tenggara, khususnya Jakarta, tengah berada di persimpangan transformasi besar menuju masa depan kota yang lebih tangguh dan berdaya saing global. Berbagai pendekatan kolaboratif mulai diterapkan untuk menjawab tantangan iklim, demografi, dan regenerasi perkotaan—mulai dari isu perumahan, infrastruktur, hingga pengembangan kawasan.

Salah satu pendorong utama transformasi ini adalah pergeseran paradigma dalam tata kelola pemerintahan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui lembaga seperti Jakarta Investment Centre, kini mendorong model pembangunan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga strategis. Investasi diarahkan tidak lagi sekadar pada pembangunan fisik, melainkan pada regenerasi kawasan yang mampu memperkuat ketahanan kota dan meningkatkan kualitas hidup warganya. Dalam skema ini, transparansi antara regulator, investor, dan masyarakat menjadi fondasi penting yang ingin dikedepankan.

Dessen Hillman, arsitek sekaligus pengembang, menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap regulasi dan struktur investasi properti, baik di tingkat kota maupun lingkungan. Menurutnya, keterlibatan investor dalam peningkatan kualitas kota tidak cukup dilakukan dari kejauhan—mereka perlu hadir secara aktif dan memahami skala pengaruh mereka: dari tapak proyek, lingkungan sekitar, hingga kontribusi terhadap sistem kota secara keseluruhan. “Menemukan mitra yang tepat dan investasi yang selaras dengan nilai kota adalah kuncinya,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, Melissa—seorang ekonom—melihat bahwa ketahanan ekonomi urban sangat bergantung pada pengembangan kawasan berbasis precinct. Bukan sekadar konsep zoning, pendekatan ini menekankan pentingnya setiap kawasan memiliki fungsi sosial, ekologis, dan ekonomi yang saling memperkuat. Ketika dirancang dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi lokal, pengembangan semacam ini bisa menjadi penopang penting bagi ketahanan kota dalam jangka panjang.

Sementara itu, NORR—biro desain asal Dubai yang kini terlibat dalam proyek-proyek kepadatan tinggi di Asia Tenggara—menyoroti tantangan demografi yang makin kompleks. Bagi mereka, desain tidak hanya soal bentuk, tetapi juga bagaimana menciptakan ruang yang mendukung kohesi sosial dan menjawab kebutuhan populasi yang beragam. 

Jakarta, dan kawasan Asia Tenggara secara lebih luas, tengah bergerak menuju masa depan kota yang tidak hanya “besar” secara fisik, tetapi juga tahan uji secara sosial dan ekologis. Regenerasi urban menjadi bahasa bersama yang mempertemukan arsitek, desainer, ekonom, regulator, dan investor dalam satu visi. Kuncinya terletak pada keberanian untuk menantang batas, membongkar ulang prinsip-prinsip dasar, dan membangun kolaborasi lintas sektor yang berpijak pada keterbukaan dan kejelasan arah. Masa depan kota yang tangguh bukan lagi sekadar kemungkinan, tetapi sesuatu yang sedang dibentuk hari ini—dimulai dari skala terkecil di lingkungan, hingga proyek-proyek kota berskala besar. (uci)


 

Jakarta in the Midst of Change: Regeneration, Resilience, and Collaboration

Southeast Asia—particularly Jakarta—is currently at a crossroads of major transformation, moving toward a more resilient and globally competitive urban future. Collaborative approaches are beginning to take shape in response to pressing challenges related to climate, demographics, and urban regeneration—including housing, infrastructure, and district development.

One of the key drivers of this transformation is a shift in governance paradigms. The Jakarta Provincial Government, through agencies like the Jakarta Investment Centre, is now promoting development models that go beyond administrative functions and into strategic urban planning. Investments are no longer solely directed at physical construction but are being refocused toward district regeneration—strengthening urban resilience and improving citizens’ quality of life. Transparency between regulators, investors, and communities is positioned as a foundational value within this approach.

Dessen Hillman, an architect and developer, underscores the importance of understanding regulations and the structure of property investment—both at the citywide and neighborhood scales. He believes investors must not remain distant; instead, they should be actively involved and conscious of their influence, from the project site to the surrounding area, and even to the broader urban system. “Finding the right partners and aligning investment with the city’s values is key,” he says.

From an economic perspective, Melissa—an economist—argues that urban resilience is closely tied to precinct-based development. This is not merely about zoning, but about how each district can serve interconnected social, ecological, and economic functions. When designed with awareness of local economic dynamics, these developments can become strong pillars of long-term urban resilience.

Meanwhile, NORR, a design firm based in Dubai and now engaged in high-density projects across Southeast Asia, highlights the increasing complexity of demographic challenges. For them, design is not only about form, but also about fostering social cohesion and creating spaces that respond to the needs of diverse populations.

Jakarta—and Southeast Asia more broadly—is advancing toward a future in which cities are not only “large” in scale, but also resilient in social and ecological terms. Urban regeneration has become a shared language that brings together architects, designers, economists, regulators, and investors under one vision. The key lies in the courage to push boundaries, reexamine fundamental principles, and build cross-sector collaboration grounded in transparency and clarity of purpose. A resilient urban future is no longer just a possibility—it is being shaped today, from small neighborhood interventions to large-scale urban projects. (uci)

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X