Round Table Discussion AAF 2022: Menjadi Bagian dari Biro atau Mendirikan Biro? – ARCHINESIA
Widget Image
 

Round Table Discussion AAF 2022: Menjadi Bagian dari Biro atau Mendirikan Biro?

Round Table Discussion AAF 2022: Menjadi Bagian dari Biro atau Mendirikan Biro?

Perjalanan para lulusan arsitektur untuk meniti karirnya pasti memiliki banyak kisah yang berbeda meskipun berasal dari almamater yang sama. Bahkan, sebagai arsitek yang memang berkarir dengan serius di bidang perencanaan dan perancangan pun bisa mempunyai perspektif yang berbeda, yaitu mendirikan biro atau berada di dalam biro.

Topik inilah yang menjadi bahan diskusi di Round Table Discussion AAF 2022 pada Minggu, 22 Mei 2022. Menghadirkan enam panelis dengan perjalanan karir yang beragam, diskusi ini pun dimoderatori oleh Imelda Akmal.

Tiga dari enam panelis merupakan pendiri biro, yaitu Ahmad Fauzi Maskan (PT Indulexco), Endy Ersal (After Office), dan Anissa Santoso (Studio Talk). Kemudian tiga lainnya adalah mereka yang menjadi bagian dari biro arsitektur. Ketiganya: Febri Karyanto (Airmas Asri), Ario Sasongko (Blue Antz Architect), serta Adri Rahardian Hanafi (Anggara Architeam).

Perbedaan perjalanan karir dari keenam panelis tersebut membuat diskusi ini menjadi menarik. Salah satunya adalah Fauzi Maskan yang pernah berkarir selama kurang lebih 24 tahun di Atelier 6 sebelum akhirnya menjadi Director of Operation and Technical di PT Indulexco. Kemudian, Endy Ersal yang melanglang buana dari 12akitek, Nataneka Arsitek selama 7 tahun, Sinarmas Land, lalu memutuskan untuk mendirikan biro sendiri bernama After Office. Ada pula Anissa Santoso yang sempat bekerja di DP Architect (4 tahun), dan bergabung di salah satu firma multinasional di Jakarta sebelum akhirnya mendirikan Studio Talk bersama empat partnernya.

Seperti yang diungkapkan Endy Ersal dalam diskusi bahwa tidak pernah ada waktu yang pas untuk memulai dan masing-masing orang akan memiliki momentumnya masing-masing. Begitu pula dengan mereka yang akhirnya mendirikan biro sendiri. Adanya keinginan untuk memenuhi passion dan kekosongan hati, serta target usia yang ingin dicapai menjadi beberapa alasan dibalik keputusan tersebut.

Di sisi lain, ada beragam sebab pula mengapa ketiga panelis lainnya, yaitu Febri Karyanto, Ario Sasongko, serta Adri Rahardian Hanafi memutuskan untuk berkarir, serta menjadi bagian dari sebuah biro. Seperti Febri Karyanto yang telah berkarir di Airmas Asri sejak tahun 2011. Ia mengungkapkan bahwa menjadi sebuah kebanggaan tersendiri baginya ketika bisa menjadi bagian dalam pembangunan berskala besar di Indonesia melalui proyek-proyek yang ia kerjakan bersama Airmas Asri. Selain itu, Febri pun tidak pernah merasa cukup untuk belajar di Airmas Asri karena permasalahan yang ia hadapi selalu berbeda dan tidak ada habisnya.

Lain halnya dengan Ario Sasongko yang ternyata menjadi arsitek pertama yang direkrut oleh prinsipal Blue Antz Architect. Ia tidak hanya diberikan kebebasan berekspresi dan memiliki suara di dalamnya, tetapi Blue Antz juga menjadi wadah untuk menyalurkan passion Ario terhadap bangunan highrise. Sedangkan bagi Adri Hanafi, selain keinginan dari diri sendiri, adanya sistem, reward, maupun jenjang profesi inilah yang membuat dirinya merasa fulfill. Ditambah lagi saat ini Adri juga sudah dipercaya untuk menjadi salah satu stakeholder dari Anggara Architeam.

Pada akhirnya, keputusan masing-masing untuk tetap menjadi bagian dari biro maupun mendirikan biro arsitektur sendiri tidak pernah ada yang salah. Tiap langkah yang diambil pasti sudah melalui pemikiran yang panjang dan banyak pengalaman dibaliknya. (uci)

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X