Johannes Widodo: Cara Berpikir Arsitek Harus Diubah – ARCHINESIA
Widget Image
 

Johannes Widodo: Cara Berpikir Arsitek Harus Diubah

Johannes Widodo: Cara Berpikir Arsitek Harus Diubah

Bicara tentang permukiman sehat untuk mencapai net zero emission dalam perspektif kota tidak bisa terlepas dari peran arsitektur maupun urban planning. Mengawali paparannya, Johannes Widodo menegaskan bahwa masalah ini adalah diawali soal mindset dan posisi.

Dalam arsitektur, kedua hal tersebut ditranslasikan dalam bentuk ergonomi atau ukuran. Salah satu yang dijadikan contoh oleh Johannes Widodo adalah ukuran liang lahat. Setiap liang lahat manusia berukuran sama, yaitu 1 x 2 meter. Bahkan, jika jenazah yang akhirnya dikremasi akan memakan ruang yang lebih kecil lagi. Inilah yang disebut dengan cukup dan tidak mubazir. Kalau lebih dari itu, maka mengambil hak milik orang lain.

Begitu pula dengan arsitektur. Setiap bangunan yang dirancang dan didirikan harus dihitung tingkat efektif dan efisiennya. Apakah keberadaan bangunan itu akan merugikan lingkungan sekitarnya? Apakah energi yang terbuang dari penggunaan bangunan itu akan sama dengan daya serapnya? Bahkan, kita tidak boleh terjebak dengan penggunaan energi terbarukan, seperti solar panel. Faktanya, solar panel hanya berumur 10 tahun dan sampai saat ini belum ada industri solar panel yang berpikir tentang bagaimana me-recycle produknya tersebut.

 

Itulah mengapa, dalam proses merancang, cara berpikir arsitek juga harus diubah. Dari linier menjadi sirkular – apa yang kita hasilkan harus bisa kembali ke alam.

Setelah itu, terkait dengan permukiman sehat untuk mencapai net zero emission, maka yang dibutuhkan adalah sebuah integrasi. Tidak hanya arsitektur maupun tata kota, tetap I juga urban structure, sosial-ekonomi, transportasi, dan pergerakan energi serta material.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai net zero emission. Diantaranya adalah data iklim dan inventarisasi gas rumah kaca, keterhubungan yang baik antar elemen, healing and cooling, emisi gas rumah kaca, serta sumber energi terbarukan. Lalu, ada juga tentang siklus energi, makanan, air, dan limbah. Kemudian, terkait juga dengan employment opportunities and leasure, serta kesadaran ekologi.

Komponen-komponen tersebut bisa mulai diaplikasikan dari area terkecil, yaitu kampung, yang kemudian bisa diterapkan pula untuk bangunan dengan skala lebih besar. (uci)

Written by

Leave a Reply

1 Comment on "Johannes Widodo: Cara Berpikir Arsitek Harus Diubah"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Anonymous
Guest

thanks for info

background color : #CCCC
X