Architect’s Response to COVID Emergency – ARCHINESIA
Widget Image
 

Architect’s Response to COVID Emergency

Architect’s Response to COVID Emergency

[Bahasa text below] As cities grew empty and hospitals reached full capacity, architects around the world pondered on their role in the fight against COVID-19. Confronted by the challenge of containment, Principal Architect of WTA Architecture and Design Studio William Ti and Dr. Glenn Angeles collaborated with Maj. Carmelo Jaluague and Maj. Banjo Torres Badayo to quickly mobilize the construction of an Emergency Quarantine Facility (EQF). William Ti, who recently curated the Anthology Festival last February, saw the potential of their pavilion in Intramuros as a viable quarantine facility for the overflow of PUIs in hospitals.

The WTA x Boysen Pavilion embodied speed, scalability, and simplicity in its structure. Prescient and purposeful, the pavilion consisted of an adaptable wall system that can transform into short-term relief spaces we might require in times of increasing uncertainty. Built with wood and enveloped in plastic, the pavilion was rapidly redesigned and repurposed into a 6m x 26m rectilinear facility equipped with 15 beds, two toilets, a shower, a testing box, and disinfecting areas. The EQF, a brainchild born out of ideas of ephemerality and impermanence, is a temporary structure aimed at augmenting the capacity of our hospitals. Strategically planned to limit cross-contamination, patients and healthcare workers have designated entries and airflow is directed downwind from front to rear to prevent recirculation. The facility can be lengthened or shortened depending on need, and can likewise be aggregated in modules to accommodate many more patients.

Built with familiar and readily-available materials, the EQF is easily replicable and scalable not only in Metro Manila but throughout the country as well. Ti champions democracy in design, providing an open-source link for the EQFs drawings in the hopes that communities take up the same agency and quick mobility that has been displayed since the conception of this project. The design’s first iteration in the Manila Naval Hospital was built in 5 days and has since grown into a network of 60 EQFs, with its first batch of 22 sites swiftly funded by friends from the private sector. In a race where speed is of the essence, the 60 EQFs targeting to house a total of over 1000 beds, are to be built from the 29th of March until the 20th of April.

This project is an exemplar of a community that contributes to a common cause; it is a beacon of what can be achieved with agency and a dedication to our society. (uci)

Ketika kota-kota menjadi sepi dan rumah sakit mendapat pasien melebihi kapasitas, arsitek di dunia merenungkan peran mereka dalam melawan COVID-19. Merasa mendapat tantangan untuk membuat ruang darurat isolasi pasien, William Ti (Prinsipal arsitek WTA) dan Glenn Angeles berkolaborasi dengan pihak angkatan bersenjata Filipina untuk memobilisasi dengan cepat pembangunan Fasilitas Karantina Darurat (FKD). William Ti, yang baru-baru ini menjadi kurator festival arsitektur Anthology pada Februari lalu di Manila, melihat potensi paviliun mereka di Intramuros sebagai fasilitas karantina yang layak untuk menampung meluapnya jumlah pasien dalam pengawasan di rumah sakit.

Paviliun WTA x Boysen bisa dibangun dalam waktu singkat karena strukturnya yang sederhana. Paviliun darurat ini dirancang dengan ruang sistem modular yang dapat ditambah maupun dikurangi jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. Dibangun dengan kayu dan diselimuti oleh plastik, paviliun ini didirikan dengan modul memanjang 6m x 26m, dilengkapi dengan 15 tempat tidur, dua jamban dan kamar mandi, bilik pemeriksaan, serta area disinfektan. Dasar ide rancangan FKD adalah untuk menambah kapasitas rumah sakit dalam waktu cepat dengan bangunan tidak permanen.

Untuk mencegah kontaminasi silang antara pasien dan petugas medis, arsitek merancang masuknya aliran udara dari depan ke belakang agar tidak terjadi sirkulasi ulang. Fasilitas darurat ini dapat dibuat panjang atau dikurangi sesuai kebutuhan, dan bisa juga dijadikan dalam modul untuk mengakomodasi lebih banyak pasien.

Dibangun dengan material yang mudah didapat, FKD menjadi bangunan yang mudah ditiru dan dibangun. Tidak hanya di Metro Manila, tetapi juga di seluruh Filipina. William Ti pun melampirkan tautan gambar kerja FKD secara gratis, berupa denah dan potongan, agar masyarakat umum dapat memanfaatkannya.

Pembangunan pertama dilakukan di halaman Rumah Sakit Angkatan Laut Manila yang dibangun dalam 5 hari dan sejak itu diharapkan akan ada 60 tempat Fasilitas Karantina Darurat. Secara serentak, sudah ada 22 tempat Fasilitas Karantina Darurat yang dibiayai para donatur dari sektor swasta. Dalam rangka menambah jumlah fasilitas penampungan pasien, pemerintah Filipina menargetkan 60 tempat Fasilitas Penampungan Darurat untuk menyediakan 1000 tempat tidur yang harus dibangun mulai tanggal 29 Maret hingga 20 April 2020.

Proyek ini menjadi salah satu contoh bagaimana arsitek dan komunitas, bersama pemerintah, membantu mengatasi COVID-19.(uci)

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X