rabu(n)senja: Envisioning Architecture through Exhibition – ARCHINESIA
Widget Image
 

rabu(n)senja: Envisioning Architecture through Exhibition

rabu(n)senja: Envisioning Architecture through Exhibition

(Bahasa text below) FFFAAARRR and Dua Studio are two young architecture firms that often contribute to exhibition and installation designs. With the theme “Envisioning Architecture through Exhibition”, the four principals of the firms shared how they apply their architectural understanding to exhibition installation design, as well as presenting architecture in the form of an exhibition on rabu(n)senja, February 27, 2019.

Since it was established in 2017, FFFAAARRR has contributed in several exhibitions including the Frankfurt & London Book Fair. The principals of FFFAAARRR, Fauzia Evanindya and Andro Kaliandi explained about the main elements that become their concern in designing exhibitions and installations: objects, actors and spatial planning. In their opinion, the approach to designing buildings is not much different from designing exhibitions. According to FFFAAARRR, the most noticeable difference lies in the element of unexpected actors, from architects, contractors, artists, graphic designers to the stakeholders. For FFFAAARRR, the key factor of the exhibition they have designed so far is circulation. Space can be formed through circulation, or vice versa, circulation can be formed from space.

Unlike the FFFAAARRR’s approach, which emphasizes the spatial planning, in designing exhibition installations, Dua Studio draws closer to the human element and personal space. With Ardy Hartono and Dimas Satria’s interest in exploring drawing and materials, the exhibition became a medium for Dua Studio to develop various concepts. When designing the installation for the exhibition, the firm that was chosen as the Curator Team of the Indonesian Pavilion for VAB 2018 always made a mock-up. Aside from testing the performance of the material, this phase also is intended to test the conceptualized atmosphere. Although sometimes unexpected things happened in the day of the event, Dua Studio considered this as a lesson to continue exploring various material properties.

With the different approaches in design, FFFAAARRR and Dua Studio concluded that in an exhibition, visuals are still the main element that must be considered. But in its implementation, responsiveness is needed to quickly adapt to solving problems in the field, such as limited time and human resource expertise availability.

(Article by Fildzah Raihan)

FFFAAARRR dan Dua Studio adalah dua biro muda yang kerap berkontribusi dalam merancang pameran dan instalasi. Mengangkat tema “Envisioning Architecture through Exhibition”, keempat principal biro ini berbagi tentang bagaimana menerapkan ilmu arsitektur ke dalam desain instalasi pameran, sekaligus menyajikan arsitektur dalam format pameran pada rabu(n)senja, 27 Februari 2019 lalu.

Sejak resmi berdiri pada tahun 2017, FFFAAARRR telah banyak berkontribusi dalam beberapa pameran termasuk Frankfurt & London Book Fair. Principal FFFAAARRR, Fauzia Evanindya dan Andro Kaliandi menjelaskan tentang elemen utama yang menjadi perhatian mereka dalam merancang pameran dan instalasi, yaitu objek, aktor dan penataan ruang. Mereka menyampaikan bahwa mendesain pameran memiliki-pendekatan yang tidak jauh berbeda dengan mendesain bangunan. Menurut FFFAAARRR, perbedaan yang paling terasa terletak pada elemen aktor yang tidak terduga, mulai dari arsitek, kontraktor, seniman, desainer grafis hingga pihak birokrasi. Bagi FFFAAARRR, benang merah dari ekhibisi yang telah mereka rancang sejauh ini adalah sirkulasi. Ruang dapat terbentuk dari sirkulasi, ataupun sebaliknya, sirkulasi dapat membentuk sebuah ruang.

Berbeda dengan pendekatan FFFAAARRR yang menekankan pada pengolahan ruang, dalam merancang instalasi pameran, Dua Studio lebih mendekatkan diri pada elemen manusia dan personal space. Berbekal ketertarikan Ardy Hartono dan Dimas Satria pada eksplorasi gambar hingga eksplorasi material, pameran menjadi sarana Dua Studio dalam mengembangkan berbagai konsep. Biro yang terpilih sebagai Tim Kurator Paviliun Indonesia untuk VAB 2018 ini selalu membuat mock-up terlebih dahulu saat merancang instalasi untuk pameran. Selain untuk menguji performa material, tahap ini juga berfungsi untuk memunculkan atmosfer, sesuai atau tidak dengan konsep apa yang diinginkan. Walaupun terkadang terjadi yang tidak terduga pada pelaksanaannya di lapangan, Dua Studio menganggap hal ini sebagi sebagai sebuah pembelajaran untuk terus mengeksplor berbagai sifat material.

Dengan perbedaan pendekatan dalam perancangan, FFFAAARRR dan Dua Studio menyimpulkan bahwa dalam ekhibisi, visual masih menjadi elemen utama yang harus dipertimbangkan. Namun dalam pelaksanaannya, dibutuhkan ketanggapan untuk cepat beradaptasi dalam menyelesaikan permasalahan di lapangan, seperti keterbatasan waktu dan keahlian sumber daya manusia.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X