Widget Image
 

Mochammad Nanda Widyarta: How Gelora Bung Karno Significantly Influence Jakarta

(Bahasa text below) The Seminar and Book Launching of “Arsitektur Gelora Bung Karno”, that was held by ARCHINESIA on August 9th, 2018, was enlivened by the presentation from Mochammad Nanda Widyarta, an architect and historian. Through his point of view, he explained the progress of Gelora Bung Karno development from the background of the Gelora Bung Karno construction to host the 1962 Asian Games to its influence on the history of Jakarta city development.

At that time, Jakarta didn’t have adequate sports facilities for the 1962 Asian Games. However, because President Soekarno intended to use this moment to present Indonesia’s capability in the international scene despite being a new country, Indonesia agreed to host the 1962 Asian Games. Indonesia worked together with the Soviet Union to build Gelora Bung Karno by bringing in Soviet Union’s architects and engineers under the name Tekhnoexport and received USD 12.5 million loans. The construction of Gelora Bung Karno also involved an Indonesian architect, Friederich Silaban, as the supervisor.

Gelora Bung Karno displayed Modern architecture with its main feature of “temu gelang” roof structure as an innovative discovery during that time. Mochammad Nanda Widyarta also conveyed several factors affecting the decision to use Modern architecture in designing Gelora Bung Karno. First, Modern architecture was a trend at that moment, which was not only happening in Europe but also in Indonesia. Second, Modern architecture reflects an independent and progressive nation. Third, Soekarno had a great interest in Modern architecture.

The existence of Gelora Bung Karno in Jakarta significantly influenced Jakarta. Besides resulting in numbers of new Modern architecture works being built in Jakarta, for example, the Press House and Hotel Indonesia, Gelora Bung Karno were also responsible for bringing development to many areas in the city. In the beginning, Senayan was an outskirt settlement area. As Senayan was chosen to be the location of Gelora Bung Karno, the settlement was moved to Tebet and triggered a new development in East Jakarta. The development of East Jakarta also prompted the construction of Jakarta Bypass, a highway connecting Tanjung Priok port and Cililitan, through the support from the United States of America. Aside from the city and architecture development, the development of Gelora Bung Karno also allowed the establishment of Televisi Republik Indonesia (TVRI) on August 24 1962 to broadcast of the 1962 Asian Games.

The construction of Gelora Bung Karno in 1962 furthermore generated a broader impact. Nanda Widyarta explained that Indonesia invited many countries, including the United States of America and the Soviet Union, to help prepare Jakarta to host the 1962 Asian Games. Apparently, this event allowed both blocs of the Cold War Era to work together.

Article by Dinda Ayu Prameswari

For more comprehensive design details about Gelora Bung Karno renovation and its venues, check out the book Arsitektur Gelora Bung Karno 2018. It is available for purchase in the nearby bookstores or you could visit Imajibooks Publisher for direct order.

Title: Arsitektur Gelora Bung Karno 2018

Writer: Imelda Akmal Architectural Writer Studio

Publisher: PT Imaji Media Pustaka

Year published: 2018

Total page: 88 pages

Book dimension: 24 x 30 cm

Cover: Soft Cover with flap

Language: Bahasa Indonesia, English (bilingual)

ISBN: 978-602-9260-53-3

.

Seminar dan Book Launching Arsitektur Gelora Bung Karno (GBK) yang diselenggarakan oleh ARCHINESIA pada tanggal 9 Agustus 2018, turut diperkaya dengan materi dari Mochammad Nanda Widyarta, seorang arsitek dan sejarawan. Melalui sudut pandangnya, beliau menyampaikan perjalanan Gelora Bung Karno mulai dari latar belakang pembangunannya untuk menyambut Asian Games 1962 hingga menjadi faktor yang mewarnai sejarah perkembangan Jakarta.

Saat itu, Jakarta tidak memiliki fasilitas olahraga yang memadai untuk Asian Games 1962. Namun, karena Presiden Soekarno ingin memanfaatkan kesempatan ini sebagai pencitraan Indonesia yang pada masa itu masih termasuk negara yang baru dalam kancah internasional, Indonesia menyanggupi menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Indonesia bekerja sama dengan Uni Soviet dalam membangun Gelora Bung Karno dengan mendatangkan arsitek dan insinyur dari Uni Soviet di bawah nama Tekhnoexport dan menerima pinjaman dana sebesar USD 12,5 juta. Pembangunan Gelora Bung Karno juga melibatkan arsitek Friederich Silaban sebagai pengawas.

Gelora Bung Karno hadir sebagai sebuah karya arsitektur modern dengan atap temu gelang yang dianggap sebagai temuan inovatif pada saat itu. Dalam kesempatan ini, Mochammad Nanda Widyarta menyampaikan bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi penggunaan arsitektur modern dalam perancangan Gelora Bung Karno. Pertama, pada saat itu arsitektur modern merupakan tren yang tidak hanya terjadi di Eropa saja, namun juga di Indonesia. Kedua, arsitektur modern dianggap mencerminkan sebuah bangsa yang merdeka dan progresif. Ketiga, Soekarno memiliki minat yang besar terhadap arsitektur modern.

Adanya Gelora Bung Karno di Jakarta tentu memberi pengaruh yang besar bagi Jakarta. Selain banyaknya karya arsitektur modern yang kemudian bermunculan di Jakarta seperti Press House dan Hotel Indonesia, Gelora Bung Karno juga membawa kemajuan bagi daerah-daerah di Jakarta. Pada awalnya, Senayan merupakan permukiman pinggir kota. Karena Senayan dipilih sebagai lokasi Gelora Bung Karno, permukiman ini dipindah ke daerah Tebet dan memicu perkembangan Jakarta Timur sebagai kawasan permukiman baru. Perkembangan Jakarta Timur memicu dibangunnnya Jakarta Bypass sebagai jalur transportasi antara pelabuhan Tanjung Priok dan Cililitan dengan bantuan Amerika Serikat. Selain dari perkembangan kota dan arsitektur, pembangunan Gelora Bung Karno juga menyebabkan berdirinya Televisi Republik Indonesia pada 24 Agustus 1962 sebagai penyiar acara Asian Games 1962.

Pembangunan Gelora Bung Karno juga membawa dampak yang lebih luas. Nanda Widyarta menyampaikan, pada masa tersebut Indonesia mengundang banyak negara, diantaranya Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk membantu menyiapkan Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Secara tidak langsung, kejadian ini menarik kedua blok dari masa perang dingin untuk bekerja sama.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X