Widget Image
 

Learning from the Indonesian Pavilion at VAB 2018

Bringing up “Learning From The Indonesian Pavilion at VAB 2018” as the topic, Forum Arsitektur ARCHINESIA returned by inviting notable speakers to share their ideas with those working in architecture industry. Held on July 19th, 2018, FAA #42 presented Indonesian Pavilion team in Venice Architecture Biennale as the speakers, including Ary Indra (Aboday), Dimas Satria and Ardy Hartono (Dua Studio), Jonathan Aditya and Johanes Adika (ars.app). Also present was Ricky Joseph Pesik as the Pavilion Commissioner and Steve J. Manahampi as the project leader. The lively talk show was moderated by Imelda Akmal and lasted for more than three hours.

Ricky Pesik opened the talk by pointing out the impact of Indonesia’s participation in VAB 2018. Architecture in Indonesia receives better recognition from architects around the world that could help creative industries to collaborate internationally in their upcoming projects. Steve Manahampi continued the discussion by sharing his fascinating experience being the project leader of the pavilion. Steve stated that the experience of visiting exhibitions or events is essential for those aspiring to be a curator or exhibition project leader.

Everything related to Indonesian Pavilion were recounted by the curatorial team interactively. As the team leader, Ary Indra began by talking about the research process, finding the main concept, to eventually coming up with the idea of ‘emptiness’. The abstraction of ‘emptiness’ led to ‘Sunyata’ in the form of suspended massive sheets of paper. ‘Sunyata’ expresses the connection between space and people. It exists to free architecture from any kind of form, as if space can only be described by senses. Dua Studio shared the brainstorming process from drawing a random sketches to the exhibited final design as well as the construction of the pavilion in Venice. The Jo-Jo brothers as the founder of ars.app also stated that the pavilion can be experience anywhere through the VR technology they utilized.

The president of Indonesia Institute of Architects, Ahmad Djuhara, who unexpectedly came to the event, was invited at the end the discussion. Ahmad Djuhara hoped that Indonesia will again attend the upcoming Venice Biennale in 2020 to show the perseverance in pursuing better architecture. As souvenirs, each participant received a unique scannable ‘Sunyata’ themed leaflet and post-cards at the end of the event.

Article by Indah Mega Ashari

Indonesian text:

Mengangkat topik “Learning from The Indonesian Pavilion at VAB 2018”, Forum Arsitektur ARCHINESIA kembali hadir dengan mendatangkan pembicara untuk berbagi kepada khalayak yang bergerak di bidang arsitektur. Diadakan pada tanggal 19 Juli 2018, FAA #42 menghadirkan tim yang terlibat dalam perancangan Indonesian Pavilion di Venice Architecture Biennale 2018 sebagai pembicara, antara lain Ary Indra (Aboday), Dimas Satria dan Ardy Hartono (Dua Studio), Jonathan Aditya dan Johanes Adika (ars.app). Komisaris paviliun, yaitu Ricky Joseph Pesik, serta Steve J. Manahampi sebagai ketua proyek juga turut hadir. Diskusi yang menarik ini dimoderatori oleh Imelda Akmal dan berlangsung selama lebih dari tiga jam.

Ricky Pesik mengawali pembicaraan dengan membahas dampak keikutsertaan Indonesia di VAB 2018. Kini arsitektur di Indonesia lebih diperhitungkan oleh para pelaku arsitektur dari seluruh dunia, sehingga mempermudah pelaku kreatif untuk bekerja sama secara internasional pada proyek-proyek mendatang. Selanjutnya, Steve Manahampi berbagi pengalaman menarik sebagai ketua proyek paviliun ini. Bagi Steve, pengalaman mengunjungi pameran sangat penting untuk setiap orang yang berminat menjadi kurator maupun ketua proyek pameran.

Segala hal terkait Paviliun Indonesia diceritakan oleh tim kurator dengan interaktif. Ary Indra sebagai ketua tim membuka pembahasan mulai dari proses riset, pencarian konsep, sampai akhirnya penentuan ide utama berupa ‘kekosongan’. Abstraksi ‘Kekosongan’ tersebut diarahkan menjadi sosok ‘Sunyata’ berupa lembaran kertas raksasa yang digantung. ‘Sunyata’ menegaskan hubungan antara ruang dan manusia yang masuk di dalamnya. Ia hadir untuk membebaskan arsitektur dari rupa, sehingga ruang hanya didefinisikan oleh rasa. Dua Studio menceritakan proses brainstorming desain yang berawal dari sketsa kasar hingga menjadi desain yang dipamerkan, serta proses pembangunannya ketika di Venice. Jo-Jo bersaudara sebagai founder dari ars.app juga menegaskan bahwa paviliun dapat dinikmati di manapun melalui teknologi VR yang mereka pakai.

Ketua IAI Nasional, Ahmad Djuhara, yang kebetulan hadir pada malam itu dipersilahkan untuk menutup acara. Ahmad Djuhara berharap bahwa pada Venice Biennale 2020, Indonesia dapat kembali hadir dan menunjukkan kegigihannya dalam memajukan arsitektur. Sebagai buah tangan, setiap hadirin memperoleh leaflet dan kartu pos bertema ‘Sunyata’ dengan barcode yang dapat dipindai.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X