Widget Image
 

Indonesia Creative Digital Architecture, Menengok Perkembangan Teknologi pada Praktik Arsitektur di Indonesia

Teknik merancang dengan mode digital semakin berkembang seiring kemajuan teknologi. Perancangan berbasis digital menjadi marak karena mempermudah pekerjaan arsitek. Melihat hal ini, untuk meningkatkan kemampuan bersaing dalam praktik arsitektur global, Departemen Arsitektur UI sebagai Pusat Unggulan Ekonomi Kreatif (PU Ekraf) Sub Sektor Arsitektur menyelenggarakan BEKRAF Creative Lab (BCL) bertajuk “Indonesia Creative Digital Architecture” selama dua hari, 29-30 September 2018 lalu.

Acara yang diselenggarakan di BLOCK71 Jakarta mengangkat tema “Optimizing Architecture with Digital Technology” di hari pertamanya. Rika Sjoekri (Noeseis) memaparkan tentang Building Information Modelling (BIM), sebuah teknologi di bidang arsitektur, konstruksi dan engineering yang menghasilkan model tiga dimensi dari berbagai informasi terkait proyek. Menurut beliau, BIM dapat membantu proses kerja arsitek yang bersifat kolaboratif dan dapat digunakan untuk mengatur proses kerja di dalam biro arsitektur. BIM juga membantu komunikasi arsitek dan kontraktor, sekaligus menjadi sistem arsip yg memudahkan penarikan data yg dibutuhkan arsitek dalam merancang.

Sejalan dengan Rika Sjoekri, Erick Budi dari BE Studio juga memanfaatkan BIM untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, sekalipun dalam jarak jauh. Anggie Amalia (MNC Land) menambahkan, BIM dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh ligkungan terhadap bangunan dan menampilkan studi kasus menentukan posisi jendela pada sebuah ruangan.

Setelah membahas perkembangan mode digital yang dapat membuat praktik arsitektur menjadi lebih optimal, ICDA menyuguhkan tema “Current Practice of Digital Architecture” di hari kedua. Rekhaza Panji Riawan dan Erick Young dari Spindonesia membagikan pengalamannya membuat Spatial Visualization dengan Virtual Reality (VR) image . Menurut mereka, VR image dapat mempresentasikan bangunan lebih detail dan mempermudah klien membayangkan ruang secara 3d. Sementara Mikhael Johanes & Azan Subhie (Nature Architecture Workshop) memaparkan “alogarithm design thinking” yang mempermudah mereka dalam proses eksplorasi desain dan visualisasi ide.

Selain mengintip perkembangan arsitektur digital pada ranah praktisi, acara ini juga memperlihatkan perkembangan teknologi pada ranah pendidikan arsitektur melalui pemaparan dari Aswin Indraprasta, Kepala Prodi S-1 Arsitektur ITB. Sebagai akademisi, beliau menyampaikan desain komputasional seperti parametric design sudah sepatutnya diajarkan pada pendidikan arsitektur. Beliau menyampaikan, parametric desain tidak melulu tentang style, namun bagaimana menjelaskan geometri secara lebih efisien.

Sesi ini ditutup oleh Prof. Yandi Andri Yatmo dengan paparan tentang “evidence based design”, yaitu proses desain berdasarkan hal-hal yang telah terjadi. Beliau menunjukkan contoh dengan evident based design, arsitek bisa menentukan jarak yang efisien pada bangunan dan menentukan peletakan ruang yang paling sesuai dengan fungsinya. Ia menuturkan bahwa kemajuan teknologi bisa membantu menghasilkan pertimbangan yang lebih spesifik dalam desain sesuai kebutuhan arsitek.

Selain seminar, pada acara ini juga berlangsung pameran maket-maket project yang dibuat menggunakan desain komputasional karya beberapa mahasiswa arsitektur dan biro arsitek di Indonesia. Pameran juga mengemukakan riset arsitektur kesehatan (well being and health architecture) melalui visualisasi, simulasi dan analisis berbasis digital, eksplorasi alogarithmic dari Code Camp DAUI, dan presentasi dalam VR.

(Artikel oleh Qabila Dzulhasri Z. & Dinda Ayu Prameswari)

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X