Widget Image
 

IAI Jawa Barat Encourages Architects to Participate Better in Architecture Competitions

IAI Jawa Barat Encourages Architects to Participate Better in Architecture Competitions

(Bahasa text below) In practicing architecture, a design competition is an opportunity sought by almost all practitioners to polish ideas, gain prizes, or to earn acknowledgments from various people. Moreover, competitions could be deemed as a trigger to architecture development as many new ideas and thoughts emerge from each submission. Seeing the importance of the existence and architect’s participation in many design competitions, Indonesian Institute of Architects of West Java (IAI Jawa Barat) held a sharing session in Bandung on November 30, 2018, titled “Berkompetisi di Indonesia” or translated as “Competing in Indonesia” and invited speakers with experiences or knowledges of architecture design competition in Indonesia.

On the first session, Deddy Wahjudi as the Head of Competition Committee in IAI Jawa Barat explained essential points of why an architect needs to join a design competition. The first point relates to an architect’s independence that means the participation of a design competition do not involve real clients—so limitations such as the client’s taste would not restrict the participants. This condition will surely encourage architects to freely and expressively design. To Deddy, the presence of design competition could build competitiveness that drives innovative climate among architects. Besides, design competition could be an opportunity for young architects to rise and become acknowledged. As more design competition being publicly held, the public could also be more frequently exposed to architecture and design.

As an active participant in design competitions, Reza Nurtjahja from URBANE shares the ‘dos and don’ts’ in order to successfully participate in a competition. Ultimately, according to Reza, competition participants should comprehend the Terms of Reference (TOR) of any competitions so that the proposed design could properly respond to the problems and needs. Since design competition usually involves a team of architects, participants should also form the right team that could work on the submission as effective and efficient as possible.

While preparing for the design proposal, Reza pointed out that it is necessary to know the juries’ taste and not to forget to present the design in the best way possible along with a striking title. But, a note to be taken is that participants should know when to stop exploring for ideas, especially when deadlines and delivery of the submission usually become hindrances.

This sharing session also invited two winners of Sleman Regent Office Design Competition that concluded recently. The first winner, represented by Basauli Umar Lubis, as well as the first runner-up, Ary Indra, elaborated their ideas behind both submissions. This design idea exposition surely served as a “nourishment” to the event’s guests, especially when more new public/government facilities or buildings in Indonesia are proposed through design competitions. With events like this, it is hoped that more architects are inspired to participate in a design competition to develop the architecture practice in West Java and Indonesia as well.

(Article by Daniel Jiang)

Dalam berarsitektur, sayembara merupakan sebuah ajang yang diminati hampir semua praktisi untuk mengasah ide, mengejar hadiah, atau memperoleh pengakuan dari berbagai kalangan. Bahkan, sayembara dapat dikatakan sebagai salah satu penggerak perkembangan arsitektur dengan munculnya berbagai ide-ide baru dalam setiap karya yang muncul. Melihat pentingnya keberadaan dan keikutsertaan arsitek dalam berbagai sayembara, Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat pada 30 November 2018 lalu mengadakan sharing session bertajuk “Berkompetisi di Indonesia” di Bandung dan menghadirkan narasumber-narasumber yang erat terkait dengan ranah sayembara arsitektur di Indonesia.

Pada sesi pertama, Deddy Wahjudi sebagai Ketua Badan Sayembara IAI Jawa Barat menerangkan poin-poin penting mengapa arsitek perlu mengikuti sayembara. Poin pertama terkait pada independensi arsitek yang berarti keikutsertaan dalam sayembara tidak melibatkan klien yang riil, sehingga batasan umum seperti selera pihak lain tidak mengekang peserta sayembara. Kondisi ini tentu dapat memacu arsitek untuk berkarya dengan bebas dan ekspresif. Menurut Deddy, keberadaan sayembara dapat menumbuhkan sikap kompetitif yang dapat berlanjut pada berkembangnya iklim inovasi di kalangan arsitek. Selain itu, sayembara juga menjadi ajang bagi arsitek muda untuk maju dan dikenal. Tentu, dengan sayembara yang kini semakin terbuka, publik juga dapat semakin terpapar pada arsitektur dan desain.

Sebagai pihak yang aktif mengikuti sayembara, Reza Nurtjahja dari URBANE kemudian membagikan kiat-kiat untuk sukses mengikuti sayembara. Utamanya, menurut Reza, peserta sayembara harus mempelajari Term of Reference (TOR) sayembara dengan baik agar desain yang diikutsertakan menjawab permasalahan dan kebutuhan sayembara dengan tepat. Karena umumnya sayembara arsitektur melibatkan sebuah tim, peserta sebaiknya membentuk tim yang tepat agar pengerjaan sayembara dapat seefektif dan seefisien mungkin.

Dalam mengerjakan desain sayembara, Reza berpendapat bahwa penting untuk mengenal selera juri dan tidak lupa menyusun presentasi yang memukau disertai dengan judul yang menarik. Namun, perlu diingat agar peserta harus tahu kapan berhenti bereksplorasi dengan ide, apalagi mengingat adanya deadline dan proses pengiriman materi yang sering menjadi kendala.

Sharing session kali ini juga dihadiri oleh dua pemenang sayembara Kantor Bupati Sleman yang baru usai. Juara pertama, diwakili oleh Basauli Umar Lubis, serta juara kedua, Ary Indra, memaparkan ide dibalik karya yang mereka ikut sertakan pada sayembara tersebut. Pemaparan ide desain kantor bupati tentu menjadi “makanan bergizi” bagi peserta acara ini, mengingat semakin banyak fasilitas atau bangunan pemerintah/publik yang disayembarakan di Indonesia. Dengan adanya acara seperti ini, harapannya semakin banyak arsitek yang terpacu untuk terlibat dalam sayembara sebagai wujud pengembangan praktek arsitektur di wilayah Jawa Barat, bahkan di Indonesia.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X