Widget Image
 

Eko Prawoto: “Architecture is not Architect’s Exclusive Work”

“On which side do we stand as an architect? Do we want to be drowned in the captivity of capitalism?”

A reflective question was asked by Eko Prawoto during his presentation; rabu(n)senja, on June 27, 2018. In the advancement of the 21st century, architecture, as it shares the importance of the life of mankind, progresses along. With technological and industrial advances, mass production is made possible, leading to conveniences in conceiving architecture. By those conveniences, architecture has shifted into means for practices that seek profit. Sooner or later, practising architecture could also become profit-oriented. Architecture has grown into something exclusive and only expresses personal characters of the architects, focusing only to the “results” of the architecture itself. Practically, this has made “context” at the umpteenth number in the architecture.

During this opportunity, Eko Prawoto conveyed that the existence of architecture must be integrated with its surroundings. Architecture should have an eye for environmental context, including physical, natural, as well as the socio-cultural environment. He quoted the saying, “nothing comes from nothing” to convey that nothing really started from zero. There is no empty site even though it seems so. There is uniqueness in each site. Architecture has to be a site-specific result with regards to the site geometry, existing objects, cultural values, natural materials, collective memories, and other things that exist on the site.

This also indicates that architecture is not a stand-alone or autonomous entity, but a collaborative work. Architects do not work individually to manifest their works. Architects owe so much to the builders, building materials, and socio-cultural values that exist on the site. By putting aside local contexts that could actually enrich our architecture comprehension, these value will start to be left forgotten.

Eko maintains the relationship with his environment by talking regularly to the locals. Once, he talked to the blacksmith in the market and gained information about two different kinds of charcoal’s temperature limits and their usage. These kinds of value are not recorded and only passed down through generations among the locals. Albeit the vast cultures in Indonesia, these values are at risk of being forgotten if they are not passed down for the next generation.

Through reflective questions, this session of rabu(n)senja engaged all participants to raise awareness of architecture as collaborative works, hence, emphasizing the context during the design process. Running his practice in a village in Yogyakarta, Eko Prawoto, with the design approach in nature and locality, has brought an interesting point of view. This point of view hopefully will spur reflections among all participants of rabu(n)senja, who mostly come from or practice in a city, on how they have carried out their architectural practices.

Article by Qabila Dzulhasri Z.

English Text by Jessica Christanti

Photography by Jonathan Raditya

Indonesian text:

“Di sisi mana kita sebagai arsitek? Maukah tenggelam dalam tempurung kapitalisme?”

Sebuah pertanyaan reflektif dilemparkan oleh Eko Prawoto dalam presentasinya pada rabu(n)senja, 27 Juni 2018 lalu. Di tengah kemajuan abad 21, arsitektur sebagai bagian dari kehidupan manusia tidak terlepas dari perkembangannya.  Dengan kemajuan teknologi dan industri, semua bisa diciptakan dengan mudah dalam jumlah yang banyak. Hal ini menciptakan kemudahan-kemudahan dalam mewujudkan karya arsitektur. Dengan tawaran kemudahan tersebut, karya arsitektur kian menjadi perantara bagi beberapa pihak untuk mencari keuntungan. Disadari atau tidak, orientasi dalam merancang karya arsitektur juga turut bergeser menjadi pencarian keuntungan. Arsitektur tumbuh menjadi sesuatu yang eksklusif, sekaligus menjadi sarana berekspresi para arsitek, sehingga fokusnya menjadi pada “hasil” karya arsitektur itu sendiri. Pada praktiknya, hal ini menjadikan “konteks” berada pada nomor kesekian dalam berarsitektur.

Dalam kesempatan ini, Eko Prawoto menyampaikan bahwa keberadaan arsitektur harus terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya. Arsitektur harus memperhatikan konteks lingkungan, baik lingkungan fisik, alam, maupun sosial budaya. Beliau mengutip perkataan, “nothing comes from nothing” untuk menyampaikan bahwa tidak ada yang benar-benar dimulai dari nol.  Tidak ada site yang benar-benar kosong meskipun terlihat demikian . Pada setiap site, terdapat keunikan masing-masing. Arsitektur harus menjadi perwujudan yang site-specific dengan memperhatikan geometri site, exsisting objects, nilai budaya, bahan alam sekitar, memori kolektif pada site, dan hal-hal lain yang terdapat pada site tersebut.

Hal ini juga menunjukkan bahwa arsitektur bukanlah entitas yang otonom atau berdiri sendiri, melainkan karya kolaboratif. Untuk mewujudkan karyanya, arsitek tidak bekerja sendirian. Ia banyak berhutang pada tukang, bahan bangunan, dan nilai-nilai sosial budaya yang terdapat pada site. Tanpa mengutamakan konteks lokal yang sebenarnya dapat memperkaya pemahaman arsitektur, hal-hal ini akan dilupakan.

Eko membagikan pengalamannya mendekatkan diri dengan lingkungannya dengan mengobrol dengan masyarakat sekitar secara berkala. Ketika mengobrol dengan seorang pandai besi di pasar, beliau memperoleh pengetahuan tentang dua jenis arang dengan batas suhu yang dapat dicapai dan penggunaannya. Ilmu-ilmu semacam ini tidak tercatat dan hanya tersimpan dalam budaya lokal secara turun temurun. Terlepas dari kebudayaan lokal di Indonesia yang sangat banyak, ilmu-ilmu tersebut rentan hilang apabila tidak diturunkan lagi.

Melalui pertanyaan-pertanyaannya yang reflektif, sesi rabu(n)senja kali ini mengajak para peserta menghadirkan kembali kesadaran bahwa karya arsitektur adalah karya kolaboratif,  karenanya penting memperhatikan konteks dalam merancang. Eko Prawoto yang berpraktik di lingkungan desa di Yogyakarta dengan pendekatannya terhadap alam dan lingkungan lokal membawa sudut pandang yang menarik. Sudut pandang ini menjadi refleksi bagi para peserta rabu(n)senja yang kebanyakan berasal atau berpraktik di kota, seperti apa praktik arsitektur yang selama ini telah mereka jalani.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X