Widget Image
 

CODA as an Experimental Team Consisting Cross-Generation Architects

(Bahasa text below) “On Progress”, the theme being discussed in the last rabu(n)senja on August 29, 2018, could be meant as a relevant expression to depict architect as a profession. Architecture and process are inseparable entities. From identifying a problem and finding ideas as solutions, an architecture project will keep developing into a complex network of ideas and figures before finally reaching an agreement and satisfaction from both the architect and client.

Architect is a tough and arduous profession. Architect’s task should not be taken easily, and its execution tends to see delays. Working overtime and staying up late are common and somewhat inevitable in an architect’s life. Architects also often get their ideas rejected and asked to be remade even though they are already well-developed.

Mastering the architect as a profession could not be done instantly. Individually, mastering the profession is relatively easy as learning and creativity could be developed along the process of being involved in the projects appointed to the architects. By only looking at individual architects, Indonesian architects has set their feet equal to those world-class architects. But in terms of building an architecture firm, Indonesian architecture firms are far left behind with many flaws compared to those found in the neighboring countries.

Different from other countries’ architecture firm that could sustain for 20 to 25 years of practice, in Indonesia, an architecture firm hardly grows into a well-developed team as its personnel keeps changing every two to four years. This pattern is encouraged by the younger architects’ point of view of not wanting to work for other architects for a long period of time. Living a practical, flexible, and nomadic life could be this younger generation’s characters that contribute to this issue.

This anxiety drives Willis Kusuma to establish CODA (Collaborative Design Office Architecture) a system to build a well-developed team of architects. This system is expected to strengthen the bond between the architects that are still working in WKA (Willis Kusuma Architect) with those who have resigned from the office earlier. Willis hopes that the presence of this system could be a solution to handle varieties of projects that need fast and innovative thinking process. By combining architects from different generations, CODA could be a team with arrays of creative thinking, flexibility, and uniqueness, and moreover a valuable place for knowledge-sharing among the younger architects in WKA.

Article by Yasmin Chairani Ulfhah

“On Progress”, tema yang diangkat pada rabu(n)senja 29 Agustus 2018 lalu, dapat diartikan sebagai ungkapan yang tepat untuk menggambarkan profesi arsitek. Arsitektur dan proses adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Berangkat dari sebuah masalah dan ide-ide sederhana, proyek arsitektur tidak akan pernah berhenti berkembang menjadi sebuah jaringan yang kompleks dan penuh perhitungan untuk akhirnya mencapai persetujuan dan kepuasan dari arsitek dan kliennya.

Arsitek adalah sebuah profesi yang keras dan sulit. Pekerjaan arsitek tidak dapat ditangani dengan remeh dan penuh dengan penundaan. Lembur dan begadang adalah kegiatan yang lumrah dan tidak dapat dihindari dalam kehidupan seorang arsitek. Penolakan dan pengerjaan ulang konsep-konsep yang dianggap matang juga merupakan hal yang biasa terjadi pada profesi ini.

Arsitek bukanlah profesi yang dapat dikuasai dalam waktu singkat. Secara individu, proses pematangan profesi ini relatif lebih mudah dijalani dan dicapai karena pembelajaran dan kreativitas arsitek dapat terus berkembang melalui berbagai jenis proyek yang dikerjakannya. Apabila dilihat secara individu, arsitek Indonesia telah banyak menjejakkan kakinya hingga sejajar dengan arsitek dunia. Namun apabila dilihat dalam bentuk sebuah biro, Indonesia masih kalah dan penuh kekurangan apabila dibandingkan dengan biro arsitektur dari negeri-negeri tetangga.

Berbeda dengan biro arsitektur di negara tetangga yang dapat bertahan hingga 20-25 tahun, di Indonesia sebuah biro arsitektur tidak pernah berkembang menjadi tim yang matang dan dewasa karena personelnya berubah setiap dua sampai empat tahun. Kebiasaan ini didorong oleh keinginan para arsitek muda yang tidak ingin bertahan dalam sebuah biro arsitektur dalam waktu yang terlalu lama. Kehidupan yang serba praktis, fleksibel, dan terus berpindah-pindah merupakan segelintir karakteristik dasar pemuda zaman sekarang yang menyumbang pada permasalahan ini.

Kegelisahan inilah yang mendorong Willis Kusuma untuk mendirikan CODA (Collaborative Design Office Architecture) sebuah sistem untuk membentuk tim arsitek yang matang dan dewasa. Sistem ini akan mengeratkan jalinan hubungan antararsitek yang masih bekerja di WKA (Willis Kusuma Architect) dengan mereka yang sudah lebih dahulu meninggalkan kantor. Willis berharap bahwa keberadaan sistem ini dapat menjadi solusi untuk menangani berbagai macam proyek yang butuh proses pemikiran cepat dan inovatif. Dengan menggabungkan arsitek dari berbagai generasi, maka CODA mungkin tidak hanya menjadi tim yang menciptakan beragam pemikiran kreatif, fleksibel, dan unik tapi juga menjadi ruang ilmu paling berharga bagi para arsitek muda WKA.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X