Widget Image
 

Book Review: The Dimensions of Practice in ’15 Cerita Arsitek Muda’

When reading this book, you might be disappointed if you expected an architecture reference book that is complete with site plans, sections, and appealing perspective renderings. Because the bulk of this book, as its title suggests, consists of stories.

The author Anas Hidayat in the preamble spoke about choosing to highlight “Kalamatra” as the basis of this book. “Kalamatra” in Sanskrit means the dimension of time. This speaks of the writer’s wish to make this book a recording of the present time and space, and also a description of this era’s architects with their creations, implicitly showing the problems that architects currently face—and how they are solved.

To illustrate them in this book, Anas Hidayat highlighted fifteen young Indonesian architects, each presenting one of their projects. The fifteen architects were chosen because Anas considered their ability to “deeply practice” architecture, as well as displaying distinct character in solving design problems.

That is why this book not only contains descriptions about the materials that are used on the walls, ceilings, or the floors, but also the architects’ stories and viewpoints about their design processes. These stories allow us to see the idealism that the fifteen architects maintain, as well as knowing about their journeys to find those ideals that in the end becomes each architect’s uniqueness.

Furthermore, each architect’s approach in dealing with design problems are illustrated through the built projects featured in this book, all of them being residential projects. How each architect convinces their clients or partners about their idealism, or even moments when the architects have to compromise certain parts of their vision, are well described in this book.

Ginanjar Ramdhani’s story about seeking his idealism.

The fifteen architects reviewed in this book are Agus Samsudin, Ivan Priatman, Yu Sing, Yodi Juliardi & Victor Vembrianto, Wiyoga Nurdiansyah & Muhammad Saghita, Realrich Sjarief, Akbar Hantar, Andy Rahman & Abdi Manaf, Gayuh Budi Utomo, Teguh laksono & Bramastia Hartanto, Ginanjar Ramdhani, Denny Setiawan, Revano Satria, Dhoni Dwipayana & Simon Gani, and Riri Yakub.

With different focuses, points of view, and idealisms between the fifteen architects, each story in this book is told through three dimensions: the dimension of process, the dimension of reality, and the dimension of materiality. The dimension of process tells about the design process, including the architect’s process of seeking idealism. The dimension of reality is depicted through facts, telling the architects’ strife throughout their professional practice. Meanwhile the dimension of materiality elaborated how each architect processed and developed materials in their projects, which showed a range of unique problem-solving methods in design.

The section about dimensions of material as it is described in Yusing’s Rumah Hutan Mini.

Those three dimensions can be discovered through Agus Samsudin who builds without using engineering drawings; Yusing who created a mini-forest in his project; Akbar Hantar’s journey to embark upon architectural competitions; Andy Rahman’s quest and discovery of a design identity; Realrich Sjarief’s story behind the residential project “Kotak Kayu”, as well as the other eight architects.

Not only showing perspective renderings of Realrich’s Wood Box, the writer also tells the story behind this project.

The book’s story-telling style, which does not compromise the valuable lessons, makes it an easily digestible reference for architecture students or emerging architects, who will appreciate knowing the multitude of pathways that one can take to become an architect. This book also provides knowledge on the many different methods of the design practice, beyond the methods they have been taught in architecture schools. This book also provides a call to foster the spirit of idealism for young architects.

However, one thing that I found regrettable was the insistence on reviewing each project through all three dimensions, which I felt made the stories too brief. The explanation could have been more detailed if it focused on one “theme” or “dimension” each, such as the dimension of process or the dimension of reality. This, I feel, would allow the stories to carry more weight.

 

Book title              : 15 Cerita Arsitek Muda Indonesia

Author                   : Anas Hidayat

Publisher              : IMAJI

Year published    : 2017

 

Review by Qabila Dzulhasri Z.

Edited by Dinda Mundakir

 

Indonesian text:

Ketika membaca buku 15 Cerita Arsitek Muda, anda akan kecewa jika mengharapkan buku referensi arsitektur yang lengkap dengan gambar denah, potongan, serta foto-foto perspektif yang memikat. Karena seperti judulnya, sebagian besar buku ini berisi cerita.

Pada pembukaannya, sang penulis Anas Hidayat mengangkat “kalamatra” sebagai gagasan dibuatnya buku ini. “Kalamatra”, yang dalam bahasa Sanskrit berarti dimensi waktu, menunjukkan harapan penulis bahwa buku ini dapat menjadi catatan kondisi ruang dan waktu saat ini, penggambaran arsitek-arsitek serta karyanya pada saat ini, yang secara implisit menunjukkan bagaimana para arsitek menyelesaikan masalahnya pada saat ini, pada zaman ini.

Untuk menggambarkannya, Anas Hidayat memilih lima belas arsitek muda Indonesia beserta masing-masing satu karyanya untuk diangkat ke dalam buku ini. Lima belas arsitek ini dipilih karena dinilai mampu “berkiprah secara mendalam” serta punya ciri khas sendiri dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi saat merancang.

Karena itulah buku ini tidak hanya berisi ulasan tentang bahan apa yang digunakan pada dinding, lantai dan plafon, tapi juga cerita sudut pandang masing-masing arsitek dalam proses merancang, hingga terbentuklah karya yang ditampilkan dalam buku ini. Cerita ini membawa kita melihat idealisme yang dimiliki para arsitek, serta mengintip sedikit perjalanan menuju idealisme yang mereka pegang, yang menjadikan keunikan kelima belas arsitek hingga saat ini.

Cara masing-masing arsitek menyikapi masalah pada proses perancangan juga dapat kita perhatikan dari contoh karya yang diulas dalam buku ini, yang kesemuanya adalah rumah tinggal. Bagaimana arsitek meyakinkan klien tentang idealismenya, hingga bagian dimana arsitek harus “mengalah” dapat kita temukan dalam buku ini.

Kelima belas arsitek yang diangkat dalam buku ini adalah Agus Samsudin, Ivan Priatman, Yu Sing, Yodi Juliardi & Victor Vembrianto, Wiyoga Nurdiansyah & Muhammad Sagitha, Realrich Sjarief, Akbar Hantar, Andy Rahman & Abdi Manaf, Gayuh Budi Utomo, Teguh Laksono & Bramastia Hartanto, Ginanjar Ramdhani, Denny Setiawan, Revano Satria, Dhoni Dwipayana & Simon Gani, serta Riri Yakub.

Dengan idealisme, sudut pandang, serta fokus yang berbeda-beda dalam merancang sebuah karya, cerita pada 15 bab yang menceritakan masing-masing lima belas arsitek ini memuat tiga dimensi pada pembahasannya, yaitu dimensi proses, dimensi realitas, dan dimensi material.

Dimensi proses menceritakan proses arsitek dalam merancang rumah tinggal yang dibahas maupun proses bagaimana sang arsitek menemukan idealismenya. Dimensi realitas tergambar dengan fakta-fakta pada proses merancang maupun pada perjalanan masing-masing arsitek. Sedangkan dimensi material menceritakan bagaimana masing-masing arsitek mengolah material dalam karyanya, yang juga menunjukkan keunikan cara penyelesaian masalah dalam merancang.

Bahasan berisi ketiga dimensi tadi dapat kita nikmati pada ulasan Agus Samsudin yang merancang tanpa gambar kerja, Yusing yang membuat hutan mini, petualangan sayembara Akbar Hantar, pencarian jati diri arsitektur Andy Rahman, cerita dibalik Rumah Kotak Kayu Realrich Sjarief, serta pada ulasan tentang delapan arsitek lainnya.

Gaya “cerita” pada buku ini dapat menjadi referensi yang menarik bagi kalangan mahasiswa arsitektur, bahwa jalan untuk menjadi seorang arsitek tidak melulu melalui jalur yang sama. Cerita-cerita dalam buku ini juga menunjukkan cara arsitek dalam merancang tidak semata-mata melalui tahap seperti yang diajarkan di kampus. Buku ini juga dapat menjadi penyemangat bagi para calon arsitek yang baru saja lulus, maupun arsitek pemula, untuk tetap memegang idealismenya dalam merancang.

Satu hal yang saya sayangkan, karena mengupas tiga dimensi dalam satu ulasan, cerita pada masing-masing arsitek menurut saya terlalu singkat penyampaiannya. Pembahasan akan lebih detail jika pembahasan fokus pada satu “tema” atau “dimensi” aja, misal dimensi proses saja, maupun dimensi realita saja, cerita dapat dibahas lebih mendalam.

Artikel oleh Qabila Dzulhasri Z.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X