Widget Image
 

Artistic Team of Indonesia Pavilion for Venice Art Biennale 2019 is Announced

(Bahasa text below) On Thursday, September 27, 2018, the art installation titled “Akal tak Sekali Sampai, Runding tak Sekali Tiba” was officially selected to represent Indonesia Pavilion in one of the most prestigious art exhibitions, the Venice Art Biennale 2019. This art installation proposal is a collaborative work by an artistic team consisting Asmujo Jono Irianto as the curator, Yacobus Ari Respati as the co-curator, along with Handiwirman Saputra and Syagini Ratna Wulan as the artists.

Unlike the making of Indonesia Pavilion in 2017, the upcoming pavilion saw a collaboration between Bekraf and Yayasan Design + Art Indonesia to hold “call for entries” to select the artistic team for the Venice Biennale 2019. The board of jury comprising Dolorosa Sinaga, I. Bambang Sugiharto, Jim Supangkat, Nirwan Dewanto, and St. Sunardi mentioned that the installation will not be a single exhibition of an artist, but a collaborative work created by a team of artists and curators.

In the first selection phase, 23 artists and curators were selected out of 60 candidates. The selected artists were invited to propose an art installation with 3 conditions. First, the selected curators/artists should form an artistic team with at least two artists. Second, the team members should have never been involved in the previous Indonesia Pavilion in Venice Art Biennale, Third, the selected artists and curators are allowed to collaborate with each other within the selected names or artists of their own choice.

The installation “Akal tak Sekali Sampai, Runding tak Sekali Tiba” that is originated from a proverb which means “everything comes out of the process” was selected after passing the final phase. “… there is an aspect of occurrence, the time and limit will be the experience in this artwork,” Dolorosa Sinaga mentioned one of the ideas that distinguish this artistic team among the rest.

The artistic team will display a three-part work that represents comments, research, and critics towards issues happening in the contemporary art practice and discourse. This idea is in line with the expected image of the Indonesia Pavilion in the Venice Art Biennale 2019.

“It has been a tendency of [developing] country like Indonesia to join an international exhibition like Venice Biennale to annunciate that our country does have contemporary art as well. But we won’t do that this time,” Jim Supangkat explained, “…we are not expecting the artwork to promote Indonesia in terms of tourism or other potentials, but how Indonesia Pavilion could represent the development of contemporary art in one part of the world.”

Closing the artistic team winner announcement, the jury addressed a special award by recommending another finalist project proposal, “Synthetic Estate”, to be exhibited in another upcoming international art exhibition. The proposal by TROMORAMA (consist of Feby Babyrose, Ruddy Hatumena dan Herbert Hans) was recommended as they bring up a theme that is relevant to present issues.

Article by Qabila Dzulhasri

.

Kamis, 27 September 2018 lalu, instalasi seni bertajuk “Akal tak Sekali Sampai, Runding tak Sekali Tiba” resmi terpilih untuk membawa nama Paviliun Indonesia di salah satu ajang pameran seni paling bergengsi di dunia, Venice Art Biennale 2019. Proposal instalasi seni ini merupakan karya kolaborasi tim artistik yang terdiri dari Asmudjo Jono Irianto (kurator), Yacobus Ari Respati (ko-kurator), Handiwirman Saputra dan Syagini Ratna Wulan (seniman).

Berbeda dari pengadaan Paviliun Indonesia pada 2017 lalu, kali ini Bekraf bersama Yayasan Design + Art Indonesia menyelenggarakan proses call for entries kepada para seniman dan kurator di Indonesia untuk menyeleksi tim artistik yang akan mewakili Indonesia di Venice Art Biennale 2019. Dewan juri yang terdiri dari Dolorosa Sinaga, I. Bambang Sugiharto, Jim Supangkat, Nirwan Dewanto, dan St. Sunardi menyampaikan bahwa instalasi yang akan ditampilkan bukanlah berupa pameran karya individu seorang seniman, melainkan karya kolaboratif dari beberapa seniman dan kurator.

Bermula dari enam puluh nama kurator dan seniman yang terlibat dalam seleksi tahap awal, terpilihlah 23 nama yang diundang untuk saling berkolaborasi dan mengajukan proposal instalasi dengan tiga ketentuan. Pertama, seniman/kurator yang diundang membentuk tim artistik yang melibatkan paling sedikit dua seniman. Kedua, unsur-unsur yang terlibat dalam tim artistik tersebut belum pernah terlibat dalam Paviliun Indonesia di Venice Art Biennale. Ketiga, seniman dan kurator terundang bisa saling mengajak siapa pun yang terdaftar dalam 23 nama yang telah ditentukan atau nama-nama yang mereka pilih sendiri.

Instalasi “Akal tak Sekali Sampai, Runding tak Sekali Tiba” yang diangkat dari peribahasa bermakna segala urusan membutuhkan proses ini terpilih membawa nama Paviliun Indonesia setelah melalui seleksi tahap final. “…di dalamnya terdapat aspek peristiwa, ada waktu dan limit yang menjadi pengalaman pada karyanya,” ujar Dolorosa Sinaga terkait gagasan yang membuat tim terpilih lebih unggul.

Terdapat tiga bagian karya yang ditampilkan berupa komentar, kajian, dan kritik atas beragam masalah yang mengiringi wacana dan praktik seni rupa kontemporer global hari ini. Hal ini sejalan dengan image yang ingin ditampilkan sebagai Paviliun Indonesia dalam Venice Art Biennale 2019.

“Sudah menjadi kebiasaan bagi negara [berkembang] seperti Indonesia, masuk ke dalam pameran internasional seperti Venice Biennale dengan keinginan menunjukkan pada dunia internasional bahwa kita juga mempunyai seni rupa kontemporer. Ini yang coba kami hindari kali ini,” ujar Jim Supangkat. “…karya yang ditampilkan tidak untuk mempromosikan Indonesia dari sektor wisata maupun potensi lainnya, tapi bagaimana Paviliun Indonesia bisa menjadi representasi perkembangan seni rupa di salah satu bagian dunia.” tambahnya.

Menutup pengumuman pemenang tim artistik , dewan juri memberi penghargaan dengan merekomendasikan proposal finalis lainnya, “Synthetic Estate”, agar dapat ditampilkan pada pameran seni rupa internasional pada masa mendatang. Proposal instalasi karya kelompok TROMORAMA (Feby Babyrose, Ruddy Hatumena dan Herbert Hans) direkomendasikan karena karya tersebut membawa tema yang relevan dengan persoalan masa kini.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X