Alvin Tjitrowirjo Thoughts on Indonesia Furniture Design and Manufacture – ARCHINESIA
Widget Image
 

Alvin Tjitrowirjo Thoughts on Indonesia Furniture Design and Manufacture

Alvin Tjitrowirjo Thoughts on Indonesia Furniture Design and Manufacture

(Indonesia text below) With such an essential question “Why do you want to be a designer?”, Alvin Tjitrowirjo started the discussion in one of rabu(n)senja event last October. It began with his frustration towards the stagnant product design industry in Indonesia that Alvin ended up dedicating himself in this industry to this day.

To Alvin Tjitrowirjo, the stagnancy of product design industry in this country is caused by the issue of imitating each other within the market. When a designer produces a design and brings it to manufacture and mass production, it is often that the production cost hinders the process. Ironically, many manufacturers took this opportunity to imitate the design and produce the exact product with far lower selling price. Furthermore, when the product performs well in the market, many competitors duplicate and sell the product with even lower prices. This happens simultaneously that price war is usually unavoidable. This condition, according to Alvin, shows how Indonesia’s manufacturers are generally profit oriented and disregard value.

On the other hand, a huge portion of manufacturers in Indonesia still function as factories to produce overseas’ orders without having their own designer. Thus, many of the products available in Indonesia are European-styled and lack of originals. Even in his visit to Merdeka Palace, Alvin still saw the use of massive and unergonomic baroque-styled furniture within the building. To him, Merdeka Palace could and should represent Indonesia’s local craftsmanship through its furniture, even more so by looking at how rich Indonesia’s culture is.

Moving on from that condition, Alvin responded by creating products with local identity through his design firm AlvinT. Alvin chooses to explore with rattan, considering 80% of rattan species are Indonesia’s native. When he started in 2006, rattan was still considered as an underdog material, but he saw an opportunity as the material is extremely versatile. With explorative and playful contemporary design in mind, combined with using local material, his products could bring fresh air to Indonesia’s design and caught the public’s attention.

For a new design to be recognized, Alvin mentioned how communication skill is imperative to convey the value of a product. Alvin also added that designers should have sensitivity and empathy to solve problems and identify needs in order to survive. He applies this principle in designing his products, one of them is Bhuana, a sofa with dual type of backrest. This versatile product is equipped with a high backrest with a flat cushion on one end, while the other end’s backrest is not for leaning. This design was conceived to accommodate different ways of how people sit.

At the end of the discussion, there are other parties, according to Alvin, that could contribute to a healthy design ecosystem in Indonesia, including governments, critics, and design writers. Government, in Alvin’s opinion, should be able to safeguard designers’ work from imitators through regulations, as well as support and facilitate designers to grow. Critics, on one hand, function to evaluate and educate the public on how a design could be deemed good or bad. While on the other hand, design writers play the role to help convey the concept, context, and technical details from the designers so that the information could be grasped by the public.

(Article by Hafizh F. Wahyu. Photography by Jonathan Raditya)

Dengan pertanyaan dasar “What is the reason you want to become a designer?”, Alvin Tjitrowirjo memulai diskusi di acara rabu (n) senja 24 Oktober 2018 lalu. Diawali oleh sebuah rasa frustasi terhadap industri desain produk di Indonesia yang statis, pada akhirnya Alvin memutuskan untuk mendedikasikan dirinya di industri ini hingga sekarang.

Menurut Alvin Tjitrowirjo, kondisi industri desain produk yang statis ini disebabkan oleh permasalahan pasar yang terbiasa saling meniru. Ketika desainer menghasilkan desain untuk proses manufaktur dan produksi masal, biaya produksi sering menjadi batu sandungan. Ironisnya, hal ini umum dimanfaatkan oleh pihak manufaktur untuk meniru ide desainer yang kemudian memproduksi desain furnitur yang sama dengan harga yang jauh lebih murah. Bahkan, ketika produk tiruan sudah tersedia di pasaran, pesaing tidak jarang menduplikasi dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah. Demikian seterusnya sehingga perang harga tidak bisa dihindari. Dari hal ini, Alvin menilai manufaktur di Indonesia masih terkesan profit oriented dan mengabaikan value yang seharusnya ada.

Di sisi lain, Alvin melihat sebagian besar manufaktur di Indonesia hanya berfungsi sebagai pabrik yang mengerjakan pesanan dari luar negeri dan belum memiliki desainer sendiri, sehingga produk yang dihasilkan pun kebanyakan bergaya Eropa. Bahkan Alvin pernah berkunjung ke Istana Merdeka yang masih menggunakan furnitur bergaya baroque yang berukuran besar dan tidak ergonomis. Menurutnya, gedung Istana Negara seharusnya bisa merepresentasikan kearifan lokal Indonesia, mengingat budaya Indonesia yang sangat kaya. 

Bergerak dari kondisi tersebut, Alvin merespons dengan menciptakan produk yang memiliki identitas lokal melalui biro desainnya AlvinT. Alvin memilih bereksplorasi dengan material rotan, mengingat 80% spesies rotan ada di Indonesia. Pada saat ia memulai di tahun 2006, rotan masih dianggap sebagai material yang underdog, namun ia melihat sebuah peluang karena rotan memiliki keunggulan mudah dibentuk dan diolah. Dengan desain kontemporer yang eksploratif dan playful, berpadu dengan material lokal, maka hal ini dapat menciptakan bahasa desain yang baru serta menarik atensi masyarakat.

Agar sebuah desain baru dapat diterima, Alvin berujar bahwa skill komunikasi penting supaya value yang ada pada produk tersampaikan dengan baik. Alvin menambahkan, sensitivitas dan empati harus dimiliki oleh desainer dalam menyelesaikan masalah dan melihat kebutuhan yang ada agar dapat survive. Prinsip ini diterapkan pada produk furnitur AlvinT, contohnya pada Bhuana Sofa, yang memiliki dua jenis sandaran. Produk yang versatile ini memiliki satu sisi dengan sandaran tinggi dan diberi flat cushion, sementara satu sisi lainnya tidak dibuat untuk bersandar. Desain ini dibuat untuk mengakomodasi cara duduk manusia yang berbeda-beda.   

Di akhir diskusi, ada pihak-pihak selain desainer yang menurut Alvin dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem desain yang sehat di Indonesia, yaitu pemerintah, kritikus, dan design writer. Peran pemerintah diharapkan dapat melindungi karya desainer dari pencurian ide melalui regulasi, serta mendukung dan memfasilitasi desainer untuk tumbuh. Kritikus berfungsi untuk menilai dan mendidik masyarakat mengapa sebuah desain bisa dikatakan baik dan buruk. Sementara itu, design writer berperan untuk membantu menyampaikan konsep, konteks, dan teknis dari desainer kepada masyarakat.

Written by

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
background color : #CCCC
X